Dalam
kehidupan sehari-hari, korosi dapat kita jumpai pada
bangunan-bangunan maupun peralatan yang memakai komponen logam
seperti seng, tembaga, besi-baja dan sebagainya. Seng untuk atap
dapat bocor karena termakan korosi. Jembatan dari baja maupun
badan mobil juga dapat menjadi rapuh karena korosi. Selain pada
perkakas logam ukuran besar, korosi ternyata juga dapat terjadi
pada komponen-komponen renik peralatan elektronik yang terbuat
dari logam.

Korosi
atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan-bahan logam
pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan
logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen.
Salah satu penyebab ambruknya suatu infrastruktur seperti
jembatan, jalan layang atau dermaga adalah terkorosinya besi
dalam beton infrastruktur tersebut. Besi dalam beton sebenarnya
tahan terhadap korosi karena sifat alkali dari beton (pH 12-13)
sehingga terbentuk lapisan pasif di permukaan besi dalam beton.
Besi baru terkorosi bila lapisan ini rusak. Proses karbonisasai
(carbonation) dan intrusi ion-ion klorida dan gas CO2 ke dalam
beton merupakan faktor penyebab rusaknya lapisan tersebut yang
berlanjut dengan terkorosinya besi di dalam beton.
Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh korosi tidak hanya biaya
langsung seperti pergantian peralatan industri, perawatan
jembatan, konstruksi dan sebagainya, tetapi juga biaya tidak
langsung seperti terganggunya proses produksi dalam industri
serta kelancaran transportasi yang umumnya lebih besar
dibandingkan biaya langsung.
Faktor
yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan.
Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan,
bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan
meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan
zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas
asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik
maupun organik. Flour, hidrogen fluorida beserta
persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif.
Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa
bahan-bahan organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang
cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan
tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat
mudah terlepas ke udara. Ammoniak dalam kegiatan industri
umumnya digunakan untuk sintesa bahan organik, sebagai bahan
anti beku di dalam alat pendingin, juga sebagai bahan untuk
pembuatan pupuk. Aneka partikel aerosol, debu serta gas-gas asam
seperti NOx dan SOx dapat berubah menjadi asam nitrat (HNO3)
dan asam sulfat (H2SO4) di udara. Oleh sebab itu, udara menjadi
terlalu asam dan bersifat korosif dengan terlarutnya gas-gas
asam tersebut di dalam udara. Dalam lingkungan dengan tingkat
pencemaran tinggi, aneka barang mulai dari komponen elektronika
renik sampai jembatan baja semakin mudah rusak, bahkan hancur
karena korosi.
Korosi
pada piranti maupun komponen-komponen elektronika dapat
mengakibatan sifat elektrik pada komponen-komponen tersebut
menjadi rusak karena terbentuknya lapisan non-konduktor. Dalam
beberapa kasus, hubungan pendek yang terjadi pada peralatan
elektronik dapat menyebabkan terjadinya kebakaran yang
menimbulkan kerugian bukan hanya dalam bentuk kehilangan atau
kerusakan materi, tetapi juga korban nyawa. (Gadis)
[
back to main
]