Data yang dikeluarkan BPS baru-baru ini
memperlihatkan perkembangan indikator-indikator ekonomi makro
yang menuju perbaikan. Tingkat inflasi Januari – April 2003
sebesar 0,.92% dan angka ini jauh lebih rendah daripada periode
yang sama tahun 2002 yang mencapai 3,26% dan tahun 2001 yang
mencapai 2,57%. Perbaikan ini sejalan dengan tingkat inflasi
April 2003 berdasarkan
year
on year
yang hanya 7,54%, jauh lebih rendah daripada
April 2002 yang mencapai 13,30% dan April 2001 yang mencapai
10,51%. Tingkat diskonto SBI untuk jangka waktu 1 bulan pada
akhir Mei 2003 sudah berada di 10,68%. Sedangkan nilai tukar
Rupiah terus menguat menjauhi target Rp. 9.000 per dollar AS
dimana saat tulisan ini dibuat sudah mencapai Rp. 8.165 per
dollar AS.
Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan
bahwa tingkat inflasi tahun 2003 diperkirakan 9,3% jika
pemerintah memutuskan untuk meningkatkan harga BBM, listrik dan
telpon. Apabila tidak terjadi maka tingkat inflasi tahun ini
bisa lebih rendah lagi. Untuk tahun 2004, tingkat inflasi
diperkirakan tidak terlalu banyak turun, sekitar 9,2%, karena
peningkatan permintaan, keterbatasan daya serap tenaga kerja dan
naiknya harga BBM, listrik serta telpon. Tingkat sukubunga pun
akan terus memperlihatkan tren penurunan untuk mendorong sektor
perbankan memberikan suku bunga kredit yang lebih murah dan
mengurangi pembayaran bunga Obligasi Pemerintah. Adapun
rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, EIU
memperkirakan akan mencapai 8.916 untuk tahun 2003 dan 9.104
untuk tahun 2004.

Selama ini kesinambungan pertumbuhan permintaan
agregat ditopang oleh konsumsi privat disamping faktor lainnya
yaitu ekspor dan impor. Pada triwulan pertama 2003 ini kegiatan
ekspor mulai pulih dengan nilai ekspor bulan Maret 2003 mencapai
US$ 5,07 milyar yang merupakan nilai tertinggi dalam kurun waktu
18 bulan terakhir. Kinerja ekspor pada Maret 2003 ini naik 3,85%
dibandingkan dengan Februari 2003. Pada periode yang sama impor
mengalami penurunan sebesar 2,53% menjadi US$ 2,88 milyar.
Perkembangan ini menciptakan surplus perdagangan US$ 2,19%,
lebih tinggi daripada bulan Februari 2003 yang mencapai US$ 1,92
milyar. BPS mengatakan bahwa kenaikan ekspor mengikuti pola
siklus menaik alami karena pada umumnya perdagangan dunia baru
bergerak pada bulan itu. Adapun penurunan kinerja impor
disebabkan melemahnya konsumsi domestik yang terutama dipicu
oleh ketidakpastian perekonomian global dan prospek tersedianya
lapangan kerja.
Impor bahan baku/penolong mengalami pertumbuhan
yang sangat baik, yaitu 34%, meskipun impor barang modal hanya
naik 6% dan impor barang konsumsi naik 28%. Hal ini
memperlihatkan bahwa peningkatan produksi lebih banyak
disebabkan oleh pemanfaatan kapasitas yang belum terpakai
sepenuhnya ketimbangan adanya investasi baru.
Tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar
Rupiah adalah variabel yang mempengaruhi unsur-unsur di dalam
permintaan agregat yang meliputi konsumsi privat, investasi,
pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor. Dengan semakin
membaiknya ketiga indikator ini, secara teoritis besaran
permintaan agregat juga akan mengalami perbaikan. Namun
perkembangan yang menjanjikan ini belum secerah gambaran
disektor ril. Kontribusi investasi baru 16,4% karena terhambat
oleh permasalahan struktural. Peran konsumsi sebagai mesin
pertumbuhan tentu ada batasnya dalam menghasilkan pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan.
Pemerintah memperkirakan bahwa pertumbuhan
ekonomi tahun 2003 berkisar 4%. Meskipun terdapat optimisme
perekonomian bisa lebih baik daripada tahun lalu, tapi Bank
Dunia mengingatkan bahwa perkembangan dalam enam bulan ke depan
akan ditentukan oleh faktor-faktor yang tak terjangkau kendali
pembuat kebijakan. Invasi AS ke Irak, dan berjangkitnya wabah
penyakit SARS memberikan dampak yang mendalam bagi pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Bank Dunia memperkirakan perekonomian
Indonesia tahun 2003 akan tumbuh sebesar 3,3% dan tahun 2004
sebesar 4% dengan asumsi Pemilu dapat berjalan mulus. Sedangkan
Asia Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan
ekonomi Indonesia tahun 2003 sebesar 0,5% menjadi 3,2% apabila
wabah SARS berjangkit sampai kuartal kedua 2003. Jika SARS terus
berjangkit hingga kuartal ketiga 2003, maka pertumbuhan ekonomi
Indonesia akan tertekan menjadi 2,3%.
Sedangkan analis Citibank, Donald Hanna,
memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh sekitar 4% pada
tahun ini dan 5% pada tahun 2004. Pertumbuhan ini dipicu oleh
kestabilan harga dan stimulus ekonomi yang diluncurkan oleh
Pemerintah. Studi yang dilakukan Economist Intelligence Unit
memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar pada
3,1% pada tahun 2003 dan 4,0% pada tahun 2004.
Dampak Perkembangan Ekonomi Makro Terhadap Bisnis
Asuransi
Setidaknya ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan asuransi jiwa di Indonesia. Ketiga
faktor tersebut adalah (i) ratio pemegang polis dengan jumlah
penduduk, (ii) perkembangan premi bruto, dan (iii) fluktuasi
nilai tukar USD/IDR. Faktor (i) dan (ii) sangat terkait dengan
pola konsumsi masyarakat dan daya beli konsumen (disposable
income),
serta kesadaran masyarakat akan kebutuhan asuransi jiwa dan
tingkat kepercayaan terhadap industri asuransi jiwa. Adapun
untuk asuransi umum, faktor-faktor yang akan mempengaruhi
pertumbuhannya adalah pertumbuhan ekonomi di sektor riil, serta
fluktuasi nilai tukar USD/IDR.
Inflasi secara langsung mempengaruhi kinerja (tingkat
laba) perusahaan di sektor riil serta daya beli masyarakat.
Kenaikan inflasi di suatu periode dapat meningkatkan biaya
produksi sehingga mengurangi laba perusahaan. Kenaikan inflasi
juga dapat melemahkan daya beli masyarakat. Perkembangan
terakhir memperlihatkan bahwa tingkat inflasi sudah pada level
yang cukup baik dan terkendali, dimana tren ini merupakan sinyal
positif bagi kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat.
Variabel lain yang menentukan pertumbuhan ekonomi
di sektor riil adalah tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga
merupakan landasan atau ukuran bagi layak atau tidak layaknya
suatu usaha/investasi. Tingkat suku bunga juga merupakan
indikator penentuan tingkat pengembalian modal atas risiko yang
ditanggung oleh pemilik modal di pasar keuangan dan pasar modal.
Tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong pertumbuhan
ekonomi di sektor riil ke arah yang lebih baik. Meskipun Bank
Indonesia secara bertahap sudah menurunkan tingkat diskonto SBI,
hingga saat ini perbankan nasional masih belum mengikutinya
dengan penurunan suku bunga kredit.
Inflasi yang rendah dan terkendali, tingkat suku
bunga yang rendah serta nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS
yang stabil, merupakan sinyal positif yang mempengaruhi
keputusan pelaku usaha/perusahaan untuk melakukan investasi,
selain faktor-faktor non-ekonomi lainnya. Sektor riil yang
bergerak memberikan peluang peningkatan permintaan pelaku usaha
atas asuransi umum. Sinyal positif ini juga akan meningkatkan
daya beli masyarakat, sehingga permintaan mereka atas asuransi
jiwa juga diharapkan dapat meningkat. Hal ini memberikan harapan
baru bagi asuransi jiwa dan asuransi umum dalam pertumbuhan
pangsa pasarnya. Semakin besar pangsa pasar asuransi yang
tergarap, secara otomatis makin besar juga pangsa pasar
reasuransi.
Bagaimana perkembangan makro ekonomi ke depan dan
pengaruhnya terhadap bisnis asuransi jiwa dan asuransi umum?
Penulis mencoba melakukan analisa dengan menggunakan tiga
skenario.
Skenario pertama:
suku bunga turun, nilai tukar stabil, inflasi menurun, iklim
investasi membaik dan kondisi sosial politik stabil, maka
sektor riil bergerak, daya beli naik, tingkat kepercayaan
konsumen tumbuh, permintaan asuransi jiwa dan asuransi umum naik,
pangsa asuransi jiwa dan asuransi umum tumbuh cukup tinggi.
Strategi yang dapat diambil dalam mengantisipasi skenario ini
antara lain memperkuat modal untuk menunjang pertumbuhan bisnis,
inovasi produk dan saluran distribusi, meningkatkan kerjasama
internasional untuk memperkuat daya saing dan memperluas pasar,
serta fokus pada
yield
investasi dengan memperhatikan tingkat risiko.
Skenario kedua:
suku bunga turun, nilai tukar stabil, inflasi menurun, tapi
sektor riil tidak bergerak, maka penggangguran meningkat,
daya beli menurun, tingkat kepercayaan konsumen menurun,
permintaan asuransi jiwa dan asuransi umum turun atau tidak
bergerak, sehingga pangsa pasar asuransi tidak tumbuh atau
tumbuh kecil, akses modal juga semakin sulit. Strategi yang
dapat dipilih antara lain meningkatkan kerjasama internasional
untuk memperluas pasar internasional, manajemen risiko yang
ketat, inovasi produk, fokus pada pasar retail yang akan tumbuh
pesat, menjaga kebijakan investasi yang konservatif.
Skenario ketiga:
indikator moneter memburuk dan sektor riil kembali terpukul,
maka penggangguran meningkat, sosial politik mulai tidak
stabil, daya beli menurun, risiko asuransi meningkat, sehingga
tarif premi naik dengan kapatasitas yang terbatas dan mahal,
pada akhirnya industri asuransi terpukul. Strategi yang dapat
diambil adalah manajemen risiko yang lebih ketat, fokus pada
hasil underwriting bersih bukan pertumbuhan premi, kebijakan
investasi hanya pada sekuritas bebas risiko.
Apapun yang akan terjadi pada perekonomian
nasional di masa datang selalu membawa dua sisi yang saling
bertentangan. Ibarat dua sisi mata uang, di dalam setiap
perubahan akan ada kesempatan dan risiko. Kejelian dan
kreativitas yang dibayangi dengan optimisme yang realistis
sangat dibutuhkan untuk menangkap dan memanfaatkan setiap
peluang yang dihasilkan oleh perubahan. (Novis)
[
back to main
]