Banyak faktor yang mempengaruhi
hubungan (komunikasi) antara Auditor dan auditan daripada
sekedar bagaimana auditor bersikap. Umumnya auditor sudah
mengetahui sebagian besar faktor-faktor tersebut, namun sering
diabaikan sehingga menjadi batu sandungan dalam melaksanakan
tugas pemeriksaan.
Sebelum Auditor
melaksanakan tugas pemeriksaan akan timbul suatu pertanyaan
dalam pikirannya “bagaimana dia bersikap agar mendapatkan respon
positif dari pihak yang diperiksa (auditan) sehingga kecukupan
dan kebenaran informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh ?” Dalam
prakteknya banyak faktor yang mempengaruhi hubungan (komunikasi)
antara Auditor dan auditan daripada sekedar bagaimana auditor
bersikap. Umumnya auditor sudah mengetahui sebagian besar
faktor-faktor tersebut, namun sering diabaikan sehingga menjadi
batu sandungan dalam melaksanakan tugas pemeriksaan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Dalam pembahasan
ini faktor-faktor yag mempengaruhi hubungan auditor dan auditan
dapat dikelompokkan dalam :
§ Peran.
Sesuai dengan fungsinya, auditor mempunyai kewenangan untuk
melakukan verifikasi atas dokumen, wawancara, konfirmasi,
inspeksi dan lain-lain terhadap auditan. Dan auditan mempunyai
kewajiban untuk memberikan informasi dan melayani auditor
sehingga situasi ini memberikan keuntungan bagi auditor berupa “conformity
pressure” kepada auditan.
§ Image.
Image yang positif adalah bahwa seorang Auditor harus jujur,
tegas dan menjunjung tinggi kebenaran. Namun image ini akan
buruk bila pihak auditan selama ini selalu menjumpai auditor
yang tidak jujur serta mentolerir penyimpangan-penyimpangan.
§ Atribut
Pribadi.
Pangkat/Jabatan, pendidikan, usia, penampilan, pengalaman dan
prestasi merupakan atribu-atribut pribadi yang dapat memberikan
pengaruh positif ataupun negatif dalam hubungan auditor dan
auditan.
§ Atribut
Organisasi.
Atribut organisasi yang pertama yang dapat memberikan pengaruh
adalah kedudukan hirarkis organisasi. Semakin tinggi kedudukan
organisasi pemeriksaan (unit auditor), makin tinggi pula nilai
yang diberikan oleh auditan. Organisasi pemeriksaan dari kantor
pusat akan lebih tinggi statusnya (dan lebih disegani) daripada
organisasi pemeriksaan tingkat perwakilan/cabang. Atribut
organisasi kedua yang berpengaruh adalah prestasi kerja
organisasi yang terkait dengan prestasi auditor (atribut pribadi).
Apabila organisasi pemeriksaan berprestasi tinggi maka akan
memberikan keuntungan positif. Dan yang terakhir adalah reputasi
organisasi. Sama halnya dengan prestasi organisasi, auditan akan
lebih hormat pada auditor yang datang dari organisasi
pemeriksaan yang reputasinya baik.
§ Perilaku.
Dalam mendapatkan informasi dari auditan maka
auditor harus memperhatikan faktor perilaku. Perilaku sopan,
halus dalam tutur kata dan gerak-gerik, hormat pada orang lain,
sikap rukun, tahu diri, simpatik dan mudah menolong akan
memberikan dampak positif bagi auditor.
§ Jenis-jenis
pemeriksaan.
General audit
akan memberikan respon yang sewajarnya dari
auditan daripada audit khusus yang diarahkan untuk menemukan
kecurangan.
§ Temuan
pemeriksaan.
Apabila selama pemeriksaan auditor menemukan sesuatu yang dapat
mengancam kedudukan auditan maka besar kemungkinan auditan akan
bersikap bermusuhan.
§ Kebijaksanaan
pemerintah/pemegang saham. Dalam hal
ini kebijakan yang menekankan pentingnya pengawasan melekat dan
pengawasan fungsional berdampak conformity pressure.
§ Suasana
setempat. Auditor yang menghadapi
auditan di daerah (dimana kepatuhan terhadap birokrasi masih
sangat tinggi) umumnya akan diterima dan dilayani dengan baik.
Penting untuk dicatat bahwa semua
faktor-faktor ini tidak terlepas dari pengaruh budaya nasional,
lokal dan budaya organisasi.
Apa Yang Harus
Dilakukan Auditor ?
Kadar pengaruh
faktor-faktor diatas berbeda-beda menurut situasi dan
orang-orang yang terlibat. Bagi auditor yang baru mengenal
auditan, atribut pribadi dan organisasi memegang pengaruh yang
sangat besar, sebaliknya bila sudah saling kenal faktor perilaku
akan lebih dominan.
Dalam
menjalankan tugasnya perbedaan kadar pengaruh tersebut dapat
digunakan auditor untuk mengkompensasikan pengaruh negatif
dengan pengaruh positif atau bahkan menyembunyikan pengaruh
negatif dan selalu menonjolkan pengaruh yang positif, misalnya
auditor yang memiliki satu atau beberapa atribut pribadi/organisasi
yang negatif dapat mengkompensasikannya dengan pengaruh yang
positif, katakanlah dengan perilaku yang baik. Namun bila
auditan tetap tidak menunjukkan kerjasama walaupun auditor sudah
menonjolkan pengaruh yang positif, maka auditor harus mencari
sebabnya. Bila penyebabnya tidak dapat diatasi/diubah oleh
auditor maka auditor harus tetap menjaga sikap formal
sekonsisten mungkin sehingga faktor positif yang tetap
ditonjolkan tadi tidak ditafsirkan sebagai tanda bahwa auditor
akan mengorbankan tugasnya demi menjaga hubungan baik.
(Alison, disadur dari materi pendidikan untuk
memperoleh sertifikasi QIA)
[
back to main
]