Pelanggan komplain adalah hal yang wajar, bagi perusahaan,
menyambut baik komplain adalah wajib!!! Nah, sekarang bagaimana
supaya komplain itu dapat tertangani secara efektif?
Perlu disadari oleh perusahaan, bahwa setiap komplain yang
diterima dari pelanggan merupakan indikasi pelanggan tersebut
masih akan tetap setia. Sudah seharusnya setiap komplain yang
disampaikan oleh para pelanggan yang mempunyai problem, disambut
dengan ucapan terima kasih oleh front–line staff.
Perusahaan wajib berterimakasih karena komplain memberikan
kesempatan kepada perusahaan untuk melakukan penyempurnaan.
Berikut beberapa kiat dalam menangani komplain pelanggan yang
kami sarikan dari tulisan Handi Irawan D. MBA.Mcom, Managing
Director Marketing & Research Consultan Frontier.
“Mengucapkan terima kasih” merupakan langkah pertama
yang harus dilakukan oleh front-line staff.
Seringkali, mengucapkan terima kasih bukanlah hal yang sulit
dilakukan. Yang menjadi masalah, apakah front –line staff
mampu melakukannya dengan tulus. Gerakan tubuh dan pancaran
sinar mata serta senyum yang menyertai, lebih dari sekedar
kata-kata. Tak mengherankan, pengembangan sikap terhadap jajaran
customer service sangatlah penting. Mereka perlu
diyakinkan bahwa pelanggan yang komplain ini masih memberikan
kesempatan kedua kepada perusahaan.
Kiat kedua dalam menangani komplain adalah mengucapkan “maaf”
setelah mengatakan kata “terimakasih.” Pada umumnya,
setelah kata ini, emosi pelanggan yang komplain pastilah reda.
Sekali lagi, tanpa disertai sikap yang benar-benar berorientasi
pelanggan, tidaklah mudah mendidik karyawan untuk melakukan
hal ini dengan tulus. Yang lebih sering terjadi adalah reaksi
spontan untuk bertahan dan membela diri. Ini terutama terjadi
bila standar layanan terhadap pananganan komplain tidak jelas.
Ini juga bisa terjadi, bila karyawan tidak memiliki
empowerment atau front–line staff ragu-ragu siapa
sesungguhnya yang menjadi atasannya, pelanggan atau manajemennya.
Penanganan komplain akan lebih efektif apabila kemudian
front- line staff mampu mencari informasi dari pelanggan.
Hal ini penting sebagai dasar untuk memberikan solusi yang
tepat. Selain itu, informasi yang diperoleh akan sangat berguna
bagi perusahaan untuk memperbaiki standar layanan atau
langkah-langkah perbaikan secara internal di masa mendatang.
Pelanggan yang sudah mulai reda kemarahannya, biasanya cukup
mudah untuk diminta informasi lebih lanjut.
Setelah itu, pelanggan biasanya akan minta kepastian bahwa
perusahaan tidak akan melakukan hal ini lagi. Jadi, kata
“terima kasih”, “maaf”, perlu diikuti, ” kami berjanji
hal tersebut tidak terulang lagi”.
Yang paling penting dari semua kiat ini adalah langkah kongkret
terhadap penanganan komplain dan harus dilakukan secepat mungkin.
Waktu adalah faktor penting dan sangat menentukan dalam
penyelesaian komplain.
Lalu, dari manakah kita tahu bahwa penanganan komplain yang
dilakukan oleh karyawan kita efektif? Tidak ada cara lain
kecuali melakukan pengukuran melalui suatu riset pasar.
Salah satu riset pasar yang dapat dilakukan adalah dengan
menggunakan decision tree. Dalam hal ini, pelanggan
pertama-tama dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu mereka yang
mempunyai problem dan pelanggan yang tidak mempunyai problem.
Dari responden yang mempunyai problem, kemudian dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu responden yang melakukan komplain dan
responden yang tidak melakukan komplain. Akhirnya, responden
yang melakukan komplain, dibagi dalam dua grup, yaitu mereka
yang sudah mendapatkan tindakan penyelesaian dan mereka yang
merasa bahwa tidak ada tindakan penyelesaian dari perusahaan.
Kemudian, tingkat kepuasan dari setiap grup pelanggan diukur
dan dianalisis.
Dari hasil analisa seperti ini, perusahaan diharapkan mampu
untuk mengidentifikasi dua hal. Pertama, sejauh manakah
perusahaan sudah dipersepsi menyelesaikan komplain? Kedua,
apakah mereka yang komplain relatif lebih puas dibandingkan
dengan mereka yang tidak komplain? Berdasarkan survei yang
dilakukan oleh Frontier, perusahaan dikatakan sudah
menyelesaikan pekerjaan komplain secara baik, apabila sekitar
90% pelanggan yang komplain mengatakan “ya”.
Ada kemungkinan bahwa tingkat kepuasan pelanggan yang komplain
dan tertangani dengan baik akan lebih tinggi dari mereka yang
tidak pernah mempunyai problem. Apabila hal ini terjadi,
perusahaan tersebut dapat dikatakan mempunyai kemampuan yang
sangat efektif dalam menangani komplain. Bagi mereka, komplain
adalah kesempatan yang terbaik untuk meningkatkan kepuasan
pelanggan. Untuk mencapai hasil seperti ini, sungguhlah tidak
mudah. Kurang dari 10% perusahaan di Indonesia yang mampu
melakukan hal ini.
(Radix)
[
back to main
]