“A CHALLENGE TO CHANGE”

Pada akhir Oktober 2001 yang lalu, saya mendapat kesempatan dari perusahaan untuk mengikuti Seminar “OLIS Executive 2001 Annuities” selama 11 hari di Jepang yang disponsori oleh Gibraltar Life Insurance Jepang (dahulu Kyoei Life Insurance). Selain materi seminar dan kemajuan kota Tokyo, ada satu hal lain yang sangat berkesan dan begitu menarik minat saya, yaitu sebuah MOTTO. Motto dari Gibraltar Life Insurance, “A Challenge to Change”.

Hampir di setiap ruang dari kantor Gibraltar Life termasuk asramanya (Takatsu House) terpajang motto tersebut pada selembar kertas tebal yang dicetak dengan cukup bagus berukuran lebih kurang 30 x 200 cm. Rasanya mustahil apabila motto tersebut luput dari perhatian orang yang berada dalam ruangan karena letaknya telah diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian dan akan terlihat serta terbaca dengan sangat jelas.

Awalnya hampir semua peserta OLIS tidak begitu peduli dengan arti dan makna kalimat tersebut. Namun karena setiap hari motto tersebut terlihat dan terbaca, pada akhirnya kalimat tersebut mulai terhafal dan melekat dalam ingatan kami.

Karena penasaran, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang panitia OLIS apa maksud dari kalimat tersebut dan mengapa dipajang hampir di setiap ruangan. Jawaban yang kemudian saya terima ternyata sangat singkat dan sederhana. Namun sangat bermakna dalam dan mempunyai pengaruh yang kuat pada paradigma berpikir saya selanjutnya.

Jawaban pertama adalah: maknanya persis sama dengan artinya secara harfiah, yaitu “sebuah tantangan untuk berubah” dan jawaban kedua adalah agar setiap orang yang melihat dan membacanya ingat dan dingatkan terus akan hal tersebut.

Awalnya saya cukup bingung dengan jawaban sesingkat dan sesederhana itu, namun setelah berbincang-bincang lebih jauh dengan panitia tersebut, barulah saya mengerti bahwa orang Jepang - khususnya para karyawan di Gibraltar Life Insurance -  berkeyakinan setiap orang ditantang untuk melakukan dan menghadapi perubahan (tentu saja ke arah yang lebih baik). Bagi mereka, sikap statis (diam), berarti hanya tinggal menunggu “kematian”, karena akan “tergilas” oleh kemajuan dan perkembangan jaman. Dengan takut pada perubahan, orang akan terkondisikan untuk tidak kreatif, malas, pesimis dan pasrah.

Kemudian, mengapa motto tersebut terpajang di berbagai tempat yang strategis? Pemajangan ini bertujuan agar motto tersebut selalu mudah dilihat dan dibaca sehingga setiap orang yang melihat dan membacanya terkondisikan untuk terus mengingatnya dan terus tumbuh motivasi dirinya untuk melakukan perubahan sekaligus sebagai pemompa semangat apabila perubahan tersebut ternyata berat dan membutuhkan pengorbanan untuk dilakukan.

Bagaimana dengan kita? Rasanya masih cukup jauh dari kondisi di atas. Paradigma berfikir dan pola-pola bekerja kita secara umum masih cenderung bersikap statis dan takut akan perubahan. Cenderung memilih posisi yang aman, diam atau pasrah asal selamat. Padahal peluang dan kesempatan terbuka lebar, apabila kita berani melakukan perubahan, ada harapan kondisi akan menjadi jauh lebih baik dari keadaan semula.

Budaya seperti itu sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Globalisasi sudah menyebar ke segala penjuru dunia, teknologi bukan lagi suatu barang mahal yang langka, internet sudah menjadi standar fasilatas bekerja. Semua itu merupakan bagian dari perubahan dan kita harus berani untuk menerimanya dengan ikut berubah, berani melakukan dan menaklukan perubahan. Baik itu dalam pola berfikir maupun bekerja, baik untuk diri sendiri maupun tempat kita bekerja. Mulailah dengan meninggalkan budaya kerja konvensional, sikap menunda-nunda pekerjaan, menutup diri dari ide dan hal-hal baru, serta takut mengambil risiko untuk berinovasi dan mengembangkan kreatifitas.

Lihat orang-orang yang kemudian berani mengambil langkah dan tindakan untuk berubah (meskipun kemudian perubahan itu cukup berat untuk dilakukan), ternyata pada akhirnya jauh lebih maju dibanding orang-orang yang memilih untuk diam dan pasrah.

Secara khusus saya ingin mengajak semua pembaca, dalam menyongsong era “ASEAN Free Trade Area” (AFTA) yang sudah di depan mata, dimana persaingan usaha dan kualitas akan menjadi sangat dominan dan kompetitif, agar mau dan berani untuk melakukan perubahan (sekali lagi, tentu saja ke arah yang lebih baik), baik bagi diri sendiri maupun lingkungan tempat bekerja. Apabila kita masih bersikap statis, takut akan perubahan dan tetap menggunakan pola-pola berfikir dan bekerja yang lama, niscaya kita akan” tergilas”

(tulisan ini dibuat sebagai “bel” untuk mempersiapkan diri dalam menyambut AFTA tahun 2003)

(Putra Wijaya)

 

[ back to main ]