Service Culture sebuah
tuntutan ataukah kebutuhan bagi perusahaan jasa/layanan. Nah,
untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita ikuti
tulisan berikut.
Bagi manajer dan karyawan yang
berhubungan langsung dengan pelanggan memerlukan informasi agar
dapat melaksanakan tugas mereka sebagai pimpinan atau pengelola
dan sebagai pemberi layanan terhadap konsumen internal dan
eksternal. Komunikasi dua arah dalam organisasi usaha layanan
akan memperlancar aspek communication management.
Organisasi usaha layanan harus
diawali dengan suatu komitmen yang kemudian ditanamkan menjadi
suatu budaya perusahaan (corporate culture). Dalam
membangun service culture dibutuhkan empat hal yaitu :
Mengembangkan Strategi Layanan (Strategic
Requirement)
Agar pengembangan strategi
layanan berhasil, harus didukung oleh management puncak dengan
mengembangkan pula budaya layanan (service culture).
Perilaku manajemen puncak yang dapat dijadikan model atau contoh
positif terhadap service culture akan memperkuat
mengakarnya budaya tersebut. Untuk membangun hal tersebut, dalam
merekrut calon karyawan manajemen harus memiliki kriteria
standar mengenai nilai, sikap, dan perilakunya yang mendukung
konsep layanan atau service culture.
Mengembangkan Struktur Organisasi
Layanan (Organizational Requirement)
Pembentukan struktur organisasi
harus menunjang service culture dengan cara memperlancar
komunikasi dua arah dan mengacu pada struktur organik, misalnya
memilih struktur organisasi yang bersifat simple profesional
bureaucracy, yaitu kombinasi antara struktur sederhana
dan birokrasi profesional bagi sebuah layanan yang memiliki
operating core yang bersifat profesional. Contohnya adalah
underwriter atau claim adjuster di suatu perusahaan asuransi,
dokter di sebuah rumah sakit atau montir di sebuah bengkel.
Struktur sederhana yang bersifat organik dan tidak berlapis-lapis
akan memperlancar terjadinya komunikasi dua arah. Para
profesional atau tenaga trampil merupakan operating core yang
menjadi inti operasional perusahaan. Standarisasi, yang
menunjang efisiensi dan terdapat dalam organisasi tersebut
merupakan sifat dari struktur birokrasi profesional.
Strategi organisasi usaha layanan
yang dilakukan bukan hanya dengan menerapkan Total Quality
Management (TQM), melainkan juga dengan menanamkan paradigma
pembelajaran organisasi (learning organization), akan
sangat mendukung keberhasilan service culture.
Learning organization bukan hanya bersifat adaptif terhadap
perubahan seperti paradigma Total Quality Management,
melainkan juga bersifat proaktif untuk mengantisipasi perubahan
di masa depan. Hal ini akan tercermin dalam manajemen sumber
daya manusia. Misalnya dalam proses seleksi, harus dipilih
karyawan yang memiliki kemauan kuat untuk belajar. Untuk
melakukan seleksi ini, perlu diadakan analisis atribut personal
(personal attributes analysis) dengan mengidentifikasi
sikap dan kompetensi yang dibutuhkan serta memperjelas hal mana
yang harus sudah ada pada diri orang tersebut atau hal mana yang
dapat dikembangkan melalui pelatihan. Selain itu, pelatihan yang
dilakukan bukan hanya pelatihan yang berorientasi masa kini
melainkan juga pengembangan para karyawannya yang berorientasi
ke masa depan, dan sebagainya.
Mengembangkan Kepemimpinan (Management
Requirements)
Untuk layanan yang baik akan
berusaha memiliki dan memelihara kepemimpinan layanan (service
leadership). Untuk membangun hal tersebut, perlu
dilaksanakan hal-hal berikut ini :
-
Encourage Leadership
learning atau usaha menggiatkan
organisasi untuk belajar, yang dilakukan dengan cara
menanamkan budaya learning organization yang diimplementasikan
dalam kegiatan manajemen sumber daya manusianya.
-
Mempromosikan orang tepat.
Misalnya dalam aspek perencanaan karier, promotion form
within menuntut persyaratan kualifikasi tingkat pendidikan
minimal, prestasi kerja, dan lamanya bekerja.
-
Menekankan keterlibatan personal.
Semua karyawan harus memiliki nilai, sikap, dan perilaku yang
menghayati faktor critical the moment of truth atau
berorientasi pada kepuasan pelanggan. Komunikasi dua arah
harus berjalan lancar.
-
Menekankan kepercayaan pada
seluruh karyawan. Contohnya adalah melakukan pengembangan
karier untuk meningkatkan motivasi dengan melakukan job
enrichment atau empowerment.
Mengembangkan Service Training
Programs (Knowledge and Attitude Requirements)
Program pelatihan terhadap keahlian,
pengetahuan, dan sikap karyawan dibutuhkan untuk mencapai
kualitas pelayanan yang baik. Mengacu pada konsep tekstonomi
Bloom, tujuan pelatihan harus memperhatikan tiga domain pada
masing-masing orang sesuai dengan kebutuhannnya, yaitu
affective, cognitive, dan psychomotor.
Sebagai ilustrasi seorang agen
asuransi yang bertugas sebagai pemasar produk asuransi pada
usaha layanan asuransi harus memiliki pengetahuan yang
berhubungan dengan bidangnya, misalnya mengerti asuransi apa
yang diinginkan atau dibutuhkan konsumen dan mampu memberikan
informasi kepada konsumen yang membutuhkannya (cognitive
domain). Contoh gampang yang lainnya, seorang sopir taksi
yang bertugas mengantarkan kosumen harus dapat mengemudikan dan
memperlakukan mobil dengan baik. Ini berkaitan dengan
psychomotoric domain. Sikap positif staff customer
service misalnya dengan memperlihatkan empati, mendengarkan
secara aktif, dan responsif pada konsumen pada konsumen yang
dihadapi melibatkan effective domain.
Pelatihan-pelatihan untuk mencapai
seluruh tujuan di atas dapat dilakukan dengan :
-
On the job Training,
contohnya latihan instruksi pekerjaan yaitu memberikan
petunjuk-petunjuk mengenai pekerjaan secara langsung saat
bekerja untuk melatih karyawan bagaimana melaksanakan
pekerjaan mereka sekarang.
-
Off the job training,
contohnya adalah metode simulasi permainan peran (role
playing). Ini dimaksudkan agar karyawan melatih sikap dan
perilaku dalam menghadapi pelanggan dan melatih keahlian
berkomunikasi yang baik. Selain itu presentasi video pun dapat
dilakukan untuk melengkapi bentuk pelatihan role playing.
Karyawan sebaiknya diperlengkapi dengan rekaman video dan buku
pegangan yang berisi cara-cara efektif dalam melayani
pelanggan sehingga karyawan dapat mempelajarinya sendiri bila
membutuhkannya.
-
Dalam pemasaran internal,
motivasi kerja yang tinggi sangat dibutuhkan. Untuk
merealisasikannya dapat dilakukan melalui berbagai cara yang
menyentuh setiap aspek manajemen sumber daya manusia. Sebagai
contoh, kita ambil acuan salah satu teori motivasi kontemporer
yang diajukan oleh David Mc Clelland yang dikenal dengan
sebutan Three Needs Theory atau teori tiga kebutuhan
yang terdiri dari need for
affiliation, need for power, need for achievement.
Program orientasi dilaksanakan untuk
memperkenalkan karyawan baru terhadap lingkungan kerjanya dan
memberikannya kesempatan untuk bersosialisasi satu sama lain.
dengan demikian, diharapkan karyawan tersebut dapat memahami
budaya perusahaan dan memenuhi need for affiliation.
Pelatihan dan pengembangan (yang antara lain bertujuan untuk
meningkatkan kualitas karyawan, mencegah keusangan karyawan, dan
meningkatkan motivasi kerjanya), penilaian prestasi kerja,
perencanaan karier yang berlaku di perusahaan termasuk dalam
kategori need for achievement. Selain itu, perencanaan
karier dan penempatan, misalnya promosi, job enrichment
atau empowerment, masuk dalam kategori need for
achievement. Contohnya adalah tercapainya standar gaji /
upah tertentu yang cukup kompetitif atau menarik di bandingkan
dengan pesaingnya. Need for affiliation contohnya adalah
kawan sekerja yang menyenangkan, atasan yang bijaksana. Need
for power, misalnya bawahan yang menyenangkan dan dapat
dikelola untuk bekerja sama. (radix)
[
back to main
]