SI ‘MANIS’ DIABETES MELLITUS

 

Mungkin anda pernah mendengar tentang istilah penyakit ‘kencing manis’ atau penyakit ‘gula’ atau penyakit ‘diabet’.  Istilah tersebut sebetulnya diberikan untuk memudahkan dan mengenal baik terhadap apa yang disebut dengan ‘diabetes mellitus’. 

Berdasarkan struktur kimianya gula dibedakan atas:

  1. Glukosa atau disebut gula murni, misalnya : gula tebu.
  2. Fruktosa, yaitu gula yang terdapat dalam buah-buahan segar yang rasanya manis.
  3. Laktosa alias gula susu yang terdapat dalam susu.
  4. Yang paling banyak dikonsumsi adalah Sukrosa, yang lazim disebut gula saja yang banyak digunakan pada makanan, misalnya : pemanis roti, kue-kue, minuman, dan lain-lain.

Tubuh manusia hanya membutuhkan 2 sendok teh gula per hari guna menunjang tubuh dalam menjalankan fungsinya sehari-hari.  Jumlah ini sebetulnya sudah dapat dipenuhi dari pencernaan karbohidrat, protein, dan lemak, bahkan tanpa mengkonsumsi gula sama sekalipun. 

Di dalam tubuh, gula akan dimetabolisme di dalam hati dan diubah menjadi trigliserida dan dilepas di dalam aliran darah sehingga terbentuk timbunan lemak darah.  Gangguan klinis akibat mengkonsumsi gula berlebihan adalah kegemukan.  Hal ini terjadi oleh karena tubuh tidak segera mengubahnya menjadi energi, tapi disimpan dalam sel sebagai timbunan lemak.

Kegemukan sejak anak-anak akibat mengkonsumsi gula berlebihan bisa merangsang tumbuhnya beragam penyakit setelah si anak dewasa.  Tubuh akan mengadaptasi melimpahnya gula dengan terus menerus mengeluarkan hormon insulin.  Lama kelamaan kelenjar pankreas yang mengeluarkan insulin kelelahan sehingga mengurangi, bahkan bisa tidak memproduksi insulin lagi.  Akibatnya tubuh tidak dapat lagi beradaptasi, sehingga timbulah penyakit diabetes atau kencing manis.

Gula juga dapat sangat membahayakan sistem kekebalan tubuh, oleh karena dengan meningkatnya konsumsi gula, sel darah putih (fagosit) menjadi kurang aktif.  Ternyata dengan membanjirnya insulin di dalam tubuh akan merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormon troksin ke dalam darah untuk mendorong insulin dapat masuk ke dalam sel.  Bila hal ini berlangsung terus menerus, kelenjar tirosit yang berguna mengatur fungsi metabolisme menjadi kecapaian sehingga proses pencernaan terhambat yang akhirnya terjadilah sembelit karena kotoran lebih lambat dikeluarkan dari tubuh.

Konsumsi gula yang berlebihan juga biasanya akan membatasi konsumsi serat yang dapat berakibat pada penyakit kanker usus, karena kotoran terlalu lama tinggal dalam usus besar dan bakteri yang seharusnya dibuang, tetapi tetap di dalam usus.  Serat yang minim juga membuat kotoran mengeras sehingga dapat menyebabkan radang usus besar.

Beberapa saran agar gula tidak menjadi lawan bagi tubuh:

  1. Diet rendah gula, mengatur makanan yang masuk ( ada gula ) harus dibagi rata sepanjang hari.
  2. Penurunan berat badan, untuk toleransi glukosa dengan melakukan olah raga yang teratur, menghindari makanan yang kaya protein dan kaya lemak, karena berat badan akan lebih membutuhkan insulin lebih besar dalam pembakaran glukosa.  Ukuran berat badan normal adalah 90% x (tinggi badan – 100), obesitas adalah 120% dari berat badan normal.
  3. Memantau sendiri angka glukosa darah.
  4. Hidangkan makanan berserat tidak kelewat manis sebagai kudapan di rumah.  Serat gizi yang baik adalah berasal dari tumbuhan, terdapat dalam bubur, kacang hijau, ubi rebus, talas rebus, dan buah-buahan dapat memperbaiki regulasi diabetes sehingga kebutuhan akan insulin berkurang.
  5. Pada usia lanjut, pengobatan diabet perlu pengawasan dokter.  Terjadinya hipoglikemi dapat menyebabkan shock, karena penyerapan gula sangat lambat.

Upaya mempertahankan angka gula darah yang relatif stabil sangat sulit, tetapi hal itu merupakan faktor mengurangi terjadinya komplikasi.  Berhenti merokok, pengobatan hipertensi, mengurangi konsumsi lemak, olah raga teratur dan kontrol yang rutin harus dilakukan.

Bila kita melihat dari hasil medis yang pernah kita lakukan, indikasi dari penyakit ini adalah :

  • Bila hasil pengukuran plasma darah > 140 mg / dl ( 7,8 mmol / l ) setelah 2 jam diberi gula, atau kadar glukosa plasma puasa > 115 mg / dl ( 6,7 mmol / l ) waktu puasa serta adanya senyawa keton dalam urine maka indikasi untuk melakukan pemeriksaan diagnostik diabet dan tindak lanjut yang ketat segera dilakukan.

  • Namun, bila kita ingin mengetahui penyakit diabet ini secara ‘badaniah’, yaitu : diabet ditandai dengan hyperglisemia serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang bertalian dengan defisiensi insulin.  Gejala yang khas adalah polidipsia ( rasa haus yang berlebihan ), poliurio ( banyak kencing ), pruritus ( gatal ), folifagia ( merasa lapar terus menerus ), kesemutan terutama di kaki, adanya luka yang sukar sembuh serta penurunan berta badan yang tidak terjelaskan.

Bagaimana dengan anda, apakah anda merasakan gejala di atas? (Ode, dr. Sondang)

 

[ back to main ]