Mungkin anda pernah mendengar
tentang istilah penyakit ‘kencing manis’ atau penyakit ‘gula’
atau penyakit ‘diabet’. Istilah tersebut sebetulnya diberikan
untuk memudahkan dan mengenal baik terhadap apa yang disebut
dengan ‘diabetes mellitus’.
Berdasarkan struktur kimianya gula
dibedakan atas:
-
Glukosa atau disebut gula murni,
misalnya : gula tebu.
-
Fruktosa, yaitu gula yang terdapat
dalam buah-buahan segar yang rasanya manis.
-
Laktosa alias gula susu yang
terdapat dalam susu.
-
Yang paling banyak dikonsumsi
adalah Sukrosa, yang lazim disebut gula saja yang banyak
digunakan pada makanan, misalnya : pemanis roti, kue-kue,
minuman, dan lain-lain.
Tubuh manusia hanya membutuhkan 2
sendok teh gula per hari guna menunjang tubuh dalam menjalankan
fungsinya sehari-hari. Jumlah ini sebetulnya sudah dapat
dipenuhi dari pencernaan karbohidrat, protein, dan lemak, bahkan
tanpa mengkonsumsi gula sama sekalipun.
Di dalam
tubuh, gula akan dimetabolisme di dalam hati dan diubah menjadi
trigliserida dan dilepas di dalam aliran darah sehingga
terbentuk timbunan lemak darah. Gangguan klinis akibat
mengkonsumsi gula berlebihan adalah kegemukan. Hal ini terjadi
oleh karena tubuh tidak segera mengubahnya menjadi energi, tapi
disimpan dalam sel sebagai timbunan lemak.
Kegemukan sejak anak-anak akibat mengkonsumsi
gula berlebihan bisa merangsang tumbuhnya beragam penyakit
setelah si anak dewasa.
Tubuh akan mengadaptasi melimpahnya gula dengan
terus menerus mengeluarkan hormon insulin. Lama kelamaan
kelenjar pankreas yang mengeluarkan insulin kelelahan sehingga
mengurangi, bahkan bisa tidak memproduksi insulin lagi.
Akibatnya tubuh tidak dapat lagi beradaptasi, sehingga timbulah
penyakit diabetes atau kencing manis.
Gula juga
dapat sangat membahayakan sistem kekebalan tubuh, oleh karena
dengan meningkatnya konsumsi gula, sel darah putih (fagosit)
menjadi kurang aktif. Ternyata dengan membanjirnya insulin di
dalam tubuh akan merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormon
troksin ke dalam darah untuk mendorong insulin dapat masuk ke
dalam sel. Bila hal ini berlangsung terus menerus, kelenjar
tirosit yang berguna mengatur fungsi metabolisme menjadi
kecapaian sehingga proses pencernaan terhambat yang akhirnya
terjadilah sembelit karena kotoran lebih lambat dikeluarkan dari
tubuh.
Konsumsi gula yang berlebihan juga
biasanya akan membatasi konsumsi serat yang dapat berakibat pada
penyakit kanker usus, karena kotoran terlalu lama tinggal dalam
usus besar dan bakteri yang seharusnya dibuang, tetapi tetap di
dalam usus. Serat yang minim juga membuat kotoran mengeras
sehingga dapat menyebabkan radang usus besar.
Beberapa saran agar gula tidak
menjadi lawan bagi tubuh:
-
Diet rendah gula, mengatur makanan
yang masuk ( ada gula ) harus dibagi rata sepanjang hari.
-
Penurunan berat badan, untuk
toleransi glukosa dengan melakukan olah raga yang teratur,
menghindari makanan yang kaya protein dan kaya lemak, karena
berat badan akan lebih membutuhkan insulin lebih besar dalam
pembakaran glukosa. Ukuran berat badan normal adalah 90% x (tinggi
badan – 100), obesitas adalah 120% dari berat badan normal.
-
Memantau sendiri angka glukosa
darah.
-
Hidangkan makanan berserat tidak
kelewat manis sebagai kudapan di rumah. Serat gizi yang baik
adalah berasal dari tumbuhan, terdapat dalam bubur, kacang
hijau, ubi rebus, talas rebus, dan buah-buahan dapat
memperbaiki regulasi diabetes sehingga kebutuhan akan insulin
berkurang.
-
Pada usia lanjut, pengobatan
diabet perlu pengawasan dokter. Terjadinya hipoglikemi dapat
menyebabkan shock, karena penyerapan gula sangat lambat.
Upaya mempertahankan angka gula
darah yang relatif stabil sangat sulit, tetapi hal itu merupakan
faktor mengurangi terjadinya komplikasi. Berhenti merokok,
pengobatan hipertensi, mengurangi konsumsi lemak, olah raga
teratur dan kontrol yang rutin harus dilakukan.
Bila kita melihat dari hasil medis
yang pernah kita lakukan, indikasi dari penyakit ini adalah :
-
Bila hasil pengukuran plasma darah
> 140 mg / dl ( 7,8 mmol / l ) setelah 2 jam diberi gula, atau
kadar glukosa plasma puasa > 115 mg / dl ( 6,7 mmol / l )
waktu puasa serta adanya senyawa keton dalam urine maka
indikasi untuk melakukan pemeriksaan diagnostik diabet dan
tindak lanjut yang ketat segera dilakukan.
-
Namun, bila kita ingin mengetahui
penyakit diabet ini secara ‘badaniah’, yaitu : diabet ditandai
dengan hyperglisemia serta gangguan metabolisme karbohidrat,
lemak, dan protein yang bertalian dengan defisiensi insulin.
Gejala yang khas adalah polidipsia ( rasa haus yang berlebihan
), poliurio ( banyak kencing ), pruritus ( gatal ), folifagia
( merasa lapar terus menerus ), kesemutan terutama di kaki,
adanya luka yang sukar sembuh serta penurunan berta badan yang
tidak terjelaskan.
Bagaimana dengan anda, apakah anda
merasakan gejala di atas? (Ode, dr. Sondang)
[
back to main
]