Tulisan kali ini akan mengupas
lobang kedua dari enam lobang kegagalan pricing, yaitu perubahan
tarif yang dilakukan tanpa adanya analisis actuarial. Setelah
sebelumnya dikupas masalah data, dimana analsis actuarial
merupakan alat penterjemah atas data–data yang dikumpulkan.
Indikasi dari perubahan tarif secara actuarial didasari kepada
proyeksi akan ekpektasi biaya, bukan pencerminan persaingan dan
pertimbangan non teknis lainnya, dimana pertimbangan ini cukup
berpengaruh dalam penentuan tarif premi.. Pendapat yang
mengatakan bahwa “kita hanya dapat membebankan tarif premi
sesuai dengan apa yang diinginkan pasar, sehingga indikasi tarif
yang dihitung secara actuarial tidak berguna” sangat
mendominasi praktek asuransi sehari–hari dalam bisnis asuransi
kerugian.
Indikasi perubahan tarif premi secara actuarial ini seharusnya
digambarkan sebagai alat diagnosa kuantitatif untuk menunjukkan
ekspektasi biaya. Jika suatu perusahaan asuransi kerugian tidak
tahu tarif premi dasar sebenarnya, maka otomatis ia tidak mampu
mengetahui seberapa besar tarif premi yang didikte pasar
tersebut akan dapat menghasilkan laba sesuai dengan apa yang
telah direncanakan atau ditargetkan sebelumnya. Jika tarif yang
didikte pasar rendah sekali, maka perusahaan asuransi kerugian
harus tahu bahwa diperlukan aksi–aksi lain (misalnya perubahan
peraturan underwriting, penekanan di pemasaran atau penanganan
klaim) agar dapat mencapai laba sesuai dengan yang direncanakan.
Kesalahan lain yang sering dilakukan
para pelaku di perusahaan asuransi kerugian adalah tidak secara
rutin atau bahkan sama sekali tidak melakukan pengamatan dan
mengikuti kecenderungan akan tarif, sehingga para pelaku
asuransi tidak punya keberaniaan menghitung berapa tarif premi
yang wajar untuk kondisi saat itu. Sebenarnya perubahan tarif
dapat diamati, dengan sedikit keberanian melakukan analisa
sensitivitas atas permintaan penurunan tarif terhadap penawaran
yang diberikan dengan berbagai skenario yang ada. Keberanian
membuat asumsi–asumsi sangat dibutuhkan, untuk melengkapi hasil
analisa ini. Implementasi dari seluruh atau sebagian dari
indikasi perubahan tarif ini merupakan satu altenatif bagi
pertimbangan manajemen dalam menetapkan tarif premi asuransi
untuk produknya.
Skenario yang dibuat dalam simulasi
dan pemodelan dapat dilakukan dari tingkat kepercayaan yang
rendah (pesimis) sampai pada tingkat yang tinggi sekali (sangat
optimis). Skenario yang dibuat tentunya tidak terlepas dari
segala konsekwensinya. Hal ini sudah menjadi pertimbangan awal
untuk memilih skenario mana yang paling cocok dengan situasi dan
kondisi internal dan eksternal perusahaan. Analisis tarif secara
actuarial hanyalah suatu alat mempermudah manajemen untuk
menentukan sikap dan mengambil keputusan yang akan diambil.
Justru yang menjadi persoalan utamanya adalah seberapa besar
keyakinan akan informasi (hasil) yang dikeluarkan dapat
dipertanggungjawabkan secara profesional? Jawabannya adalah
data. Inilah yang membuktikan bahwa lobang–lobang kegagalan
dalam pricing saling terkait satu sama lain. Sudah saatnya kita
berhitung, agar kita dapat untung.
[
back to main
]