Dimanakah peran Investasi ?

 

Sebagai institusi bisnis, perusahaan merupakan alat pelipatganda kekayaan para pemegang saham. Untuk mencapai tujuan ini pihak manajemen perusahaan harus mampu secara konsisten dari waktu ke waktu meningkatkan nilai perusahaan. Dan dalam hal  ini, salah satu indikator keberhasilan manajemen adalah  kemampuannya  dalam menciptakan laba.

Adalah cukup fair apabila kita katakan bahwa semestinya laba  berasal  dari pengelolaan bisnis utama. Laba diperoleh apabila total penjualan lebih besar  daripada biaya-biaya. Dalam konteks asuransi, penjualan adalah produksi premi, dan biaya-biaya adalah kewajiban klaim, premi reasuransi,  biaya operasional dan biaya pemasaran. Dengan demikian, laba diperoleh apabila  produksi premi lebih besar daripada kewajiban klaim ditambah premi reasuransi ditambah biaya operasional dan pemasaran. Lalu, bagaimana dengan pendapatan yang berasal dari hasil investasi ?  

Pada dasarnya, investasi bukanlah bisnis utama perusahaan asuransi. Investasi merupakan upaya perusahaan untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi yang dimilikinya (modal/uang). Dengan kata lain, pendapatan investasi hanyalah komponen tambahan bagi pendapatan perusahaan asuransi.  Benar kiranya bahwa pendapatan hasil investasi kadangkala menjadi “bumper” perusahaan asuransi pada masa-masa sulit. Meskipun pada tahun tersebut secara underwriting perusahaan asuransi merugi, tetapi karena perusahaan ini berhasil memperoleh pendapatan hasil investasi yang lebih besar daripada kerugian underwriting – misal dari selisih kurs – maka dalam Laporan Keuangannya, perusahaan ini mencetak laba. Untuk jangka pendek ia merupakan penyelamat, tapi untuk jangka panjang ia merupakan penipu bagi manajemen dan pemegang saham. Laba yang dilaporkan bukanlah laba yang sebenarnya. Pada titik dimana  perusahaan sudah tidak lagi bisa mencetak laba dari bisnis utamanya, adalah hal yang logis jika para pemegang saham atau calon investor akan bertanya : “mengapa kami  mesti menanamkan modal pada bisnis atau perusahaan yang merugi ?”.

Wacana diatas memang lebih sederhana daripada kenyataan yang sebenarnya. Asumsi sukubunga yang merupakan komponen penting dalam memprediksi pendapatan hasil investasi juga merupakan komponen dalam penetapan premi, khususnya pada asuransi jiwa. Kenyataan   semakin rumit dengan mulai terjadinya pergeseran paradigma risiko asuransi serta ancaman risiko katastrop yang semakin tinggi yang menyebabkan semakin menipisnya margin keuntungan underwriting. Tidak bisa tidak, perusahaan asuransi harus mengenjot pendapatan hasil investasinya untuk lebih memastikan adanya pertumbuhan laba. Namun, semakin agresif kebijakan investasi maka semakin tinggi risiko yang harus dihadapi – high risk, high return. Meski dalam hal ini perusahaan asuransi berpacu dengan waktu, hak para pemegang polis jangan pernah sampai terabaikan. ( Novis Asria )

[ back to main ]