SEMINAR GENERAL AVERAGE LOSSES ReINDO

November 1998, sebuah truk besar dengan tulisan Maharati di bagian belakangnya  sedang menaiki bukit yang cukup terjal.  Lalu lintas dengan jalan selebar 12 meter antara  Mumbai  - Pune ketika itu cukup padat.  Sisi sebelah kiri jalan adalah jurang dan sebelah kanan adalah dinding yang terbentuk oleh alam. Hampir 50 persen jalan diisi oleh truk-truk dan bus besar.  Truk Maharati  buatan Tata Engineering itu sedang membawa bahan makanan seperti gandum, beras, bawang, dan kacang merah.  Pada tikungan patahan, tiba-tiba truk oleng ke kiri.  Arah kendaraan seakan menuju jurang.  Seketika itu juga supir truk membanting stir ke kanan, mengakibatkan truk menabrak dinding jalan.  Bagian samping kanan truk rusak cukup parah, tapi truk tetap bisa jalan.  Pemilik truk Maharati minta kepada pemilik bahan makanan untuk secara bersama mengganti kerusakan truknya. 

Pada kasus diatas pengemudi truk telah berhasil menyelamatkan truk dari bahaya jatuh ke jurang. Tidak hanya truk, namun juga bahan makanan yang diangkutnya.  Supir truk tahu pasti - dengan menabrak truk ke dinding jalan, akan mengakibatkan truk yang dikemudinya akan menyebabkan kerusakan pada truknya.  Tetapi nilai kerusakan yang terjadi jauh lebih kecil dibandingkan bila truknya jatuh ke jurang.  Pertanyaannya apakah adil bila biaya membetulkan truk juga dibebankan kepada pemilik bahan makanan?  Berdasarkan azas logika, kita sepakat akan menjawab “ya”.  Bentuk sharing losses dari pemilik bahan makanan kepada pemilik truk itu muncul disebabkan ada 2 atau lebih kepentingan yang coba diselamatkan.

Kejadian seperti kasus Maharati tadi seringkali terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.  Lebih dari 100 tahun sebelumnya - tepatnya tahun 1887, persoalan seperti ini sudah menjadi pembicaraan orang di kota Antwerp.  Mereka tidak membicarakan soal truk, tapi kasus yang mirip yang terjadi di laut. Kejadian yang dialami truk tadi, berubah objeknya menjadi kapal yang membawa cargo goods..  Pada tahun 1890, di kota York, pembicaraan kedua dilaksanakan yang memunculkan “The York Antwerp Rules 1890” -  sebuah rule yang menjadi dasar hukum dalam menyelesaikan kasus General Average (GA) losses.  Sampai saat ini dasar hukum itu dikenal dengan sebutan “The York Anwerp Rules 1974” – karena memang perubahan terakhir terjadi pada tahun 1974.

Ada dua kelompok yang dijelaskan dalam rules tersebut. Pertama adalah prinsip-prinsip dan pengertian general average yang dikelompokkan dalam rules A s/d G.  Kelompok kedua menjelaskan bagaimana suatu kerugian atau biaya harus dibagi dalam tiap-tiap adjustment. Ini dikelompokan dalam rules I s/d XXII.

Kedua kelompok inilah yang didiskusikan dalam temu Underwriter Reindo yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 25 Juli 2001 di Ruang Pertemuan Lt. 1 Gedung ReINDO, Jl. Salemba Raya No. 30.  Tampil sebagai nara sumber kali ini adalah Syafwanul Khoiri – Underwriter Marine Reindo yang juga sebagai tenaga pengajar di Akastri.  Acara yang dibuka oleh Dirut Reindo - Hendrisman Rahim ini juga mendiskusikan seputar formula perhitungan GA Losses dan jaminan yang dibutuhkan.

Dalam Marine Insurance Act (MIA) 1906, article 66, disebutkan General Average (GA) adalah kerugian yang disebabkan oleh atau sebagai akibat langsung dari tindakan GA.  Ini meliputi biaya umum dan juga pengorbanan GA.

“Dalam hal terjadi GA losses, ship owner berkewajiban melindungi seluruh kepentingan yang ada dalam kapal, sehingga apabila terjadi kerusakan pada kapal beserta isinya, ship owner  yang tampil lebih dahulu menyelesaikan kerugian yang terjadi”, demikian penjelasan Syafwanul Khoiri.  Bapak dari 2 orang putra yang telah mengantungi gelar AAA-IK ini menerangkan lebih lanjut bahwa sehubungan dengan kewajiban tersebut, maka ship owner meminta jaminan kepada pemilik cargo atas sanggung membayar kontribusi terhadap GA losses.

“Ada dua jenis jaminan yang dibutuhkan oleh ship owner apabila terjadi GA losses. Pertama, apabila nilai jaminannya tidak begitu besar, maka yang dibutuhkan hanya berupa Lloyd’s Average Bond yang ditanda-tangani oleh pemilik cargo. Form average bond ini berisi jenis cargo berikut dengan  B/L dan harganya.  Kedua, apabila kerugian GA cukup besar, maka dibutuhkan jaminan berupa cash deposit atau bank guarantee selain average bond.

Ditambahkannya, apabila cargo yang diangkut,  ditanggung oleh perusahaan penanggung (bisa bank atau asuransi) dimana penanggung ini telah dipercaya oleh pemilik kapal, maka cash deposit dapat saja diganti oleh Letter of Guarantee – yaitu surat jaminan yang dikeluarkan oleh penanggung dari pemilik cargo.  Apabila yang menjadi penanggung perusahaan asuransi, maka penanggung bersedia membayar kontribusi dengan ketentuan GA losses yang terjadi dijamin oleh kondisi polis.

Temu Underwriter yang diikuti sebanyak 55 orang peserta dari 40 Ceding Company ini terlihat begitu “hidup”. Ini ditandai dari berbagai macam kasus yang disampaikan  dan berbagai tanggapan dari para peserta.

Direncanakan, acara serupa akan terus digelar ReINDO.  Tentunya dengan persoalan lain yang masih banyak lagi untuk didiskusikan lebih lanjut. Kita tunggu saja tanggal mainnya. (Arie)

[ back to main ]