PASANG
KUDA-KUDA DI TAHUN KUDA
Pengamat bisnis
dan konsultan pemasaran meramalkan bakal ramainya persaingan di
pasar pada tahun kuda ini. Menurut Jahja B. Soenarjo, konsultan
dan pengamat bisnis pemasaran sebagaimana dilansir oleh Dwi
Mingguan Marketing, meramalkan bahwa tahun 2002 akan sangat
ramai, chaos, hypercompetitive, dan penuh
tantangan. Ditahun pra-AFTA ini, para pelaku bisnis akan
habis-habisan mengeluarkan jurus mautnya agar tetap eksis atau
bahkan berkembang. Seperti halnya karakter kuda yang selalu
bekerja keras dan ngotot, maka aroma kerja keras dan ngotot pula
yang akan tercium dikalangan pelaku usaha yang ingin berhasil.
Hermawan
Kertajaya, Leading Service Officer Mark-Plus & Co,
menengarai, sahabatnya, Philip Kotler, khawatir pemasaran akan
habis oleh dua hal. Pertama, keberadaan teknologi yang
seolah-olah bisa menggantikan peran pemasaran, seperti program
CRM (Customer Relation Management). Karena demikian
canggihnya piranti lunak ini, sehingga apapun persoalan
pemasaran dapat terjawab olehnya. Yang kedua, adanya konsep
Marketing Publik Relations yang seolah-olah tergambarkan,
pemasaran tidak lebih dari komunikasi. Sehingga dengan cukup
menggerakkan sayap komunikasi urusan beres dengan sendirinya.
Paduan situasi
dan kompleksitas kepentingan inilah yang tampaknya bakal
berkembang di tahun 2002. Disatu pihak, para pelaku usaha
berhadapan dengan situasi yang tidak normal: ekonomi makro yang
masih buram, daya beli yang secara merata ambruk, tetapi tetap
menjanjikan untuk segmen pasar tertentu (buktinya di Jakarta
masih banyak orang kaya yang bisa mengeluarkan uang puluhan juta
hanya untuk merayakan Tahun Baru 2002), persaingan jelas kian
sengit – serta kendala-kendala lain yang tidak terprediksi serta
tidak pasti.
Sementara itu,
dipihak lain, pendekatan dan tren-tren pemasaran yang
diperkenalkan para ahli pemasaran bergerak berkejaran dengan
realitas pasar yang sangat kompleks. Jadinya, apa pun tren
pemasaran yang berkembang, semuanya layak dan cocok digunakan
untuk kasus-kasus yang memang tepat menggunakan pisau bedah itu.
Contohnya
pendekatan pemasaran experiental marketing, yang diyakini
Hermawan akan menjadi tren paling anyar di tahun 2002.
Asumsinya, konsep pelayanan yang berbasiskan kepuasan pelanggan,
masih ada ditengah-tengah perjalanan. Dia belum final. Mengapa?
Ketika semua orang sudah menjalankan konsep itu, maka untuk
memenangkan persaingan, harus meningkat ke experiental
marketing, memberikan pengalaman yang menancap di benak
konsumen.
Dengan demikian,
kekhawatiran Kotler tidak perlu terjadi. Sebab teknologi maupun
komunikasi tetap diperlukan untuk menambah afdol dan akuran
keputusan-keputusan strategis yang diambil. Misalnya saja,
dalam memperhitungkan pentingnya pelanggan.
Kalau selama ini demi mengejar
loyalitas dan mendongkrak penjualan, pelaku bisnis hanya
berpikir bahwa pelanggan adalah aset berharga dan harus dikelola
dengan baik, maka dengan bantuan teknologi, pemasar bisa
memperhitungkan return-nya. Sehingga mereka bisa memilah
mana yang perlu diinvest besar-besaran, kecil-kecilan atau tidak
sama sekali. (Radix)
[ back to main
]