Lobang Pertama :
D A T A
Pada tulisan sebelumnya, telah
dijelaskan bahwa terdapat enam lobang kegagalan dalam melakukan
pricing. Tulisan kali ini, akan mengupas lobang pertama, yaitu
masalah data yang tersedia tidak dapat dipercaya.
Dalam
teorinya, bisnis asuransi kerugian harus mempunyai kepercayaan
yang besar terhadap data, dalam hal ini data yang diolah oleh
biro tarif, karena biro ini secara periodik akan mengumumkan
tarif atau ekspektasi biaya klaim (loss cost). Seharusnya
tarif yang dibuat oleh biro ini dapat digunakan sebagai acuan
dalam melakukan rating untuk setiap akseptasi bisnis perusahaan
asuransi kerugian. Anehnya, tarif ini sering diperdebatkan dan
dipertanyakan oleh pelaku asuransi kerugian, sehingga terkadang
timbul pertanyaan apakah tarif yang dikeluarkan oleh biro tarif
ini perlu?
Banyak data yang dilaporkan perusahaan asuransi kerugian ke biro
tarif dinilai tidak cukup (kurang) kredibel untuk tujuan
perhitungan tarif (ratemaking), khususnya untuk risiko
pada kelas tertentu (kebakaran). Kekurangan ini, membutuhkan
justifikasi data base industri dalam rangka merasionalisasi
kebutuhan akan ketidakcocokan tarif tersebut.
Setiap
perusahaan asuransi kerugian seharusnya punya keahlian dalam
membuat proyeksi akan tarif masa datang (future cost),
apalagi kalau proyeksi tarif tersebut didukung oleh keseluruhan
data industri. Tanpa keahlian untuk memproyeksi masa datang,
perusahaan asuransi kerugian tidak akan mampu membuat rencana
operasinya dengan baik, yang pada akhirnya manajemen yang
efektif tidak akan pernah terwujud.
Kepercayaan yang begitu besar akan data dalam rangka proyeksi
tarif masa datang mempunyai peranan yang sangat penting,
sehingga dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak khususnya para
pelaku asuransi kerugian untuk melengkapi data yang kurang dapat
mereka percayai tersebut. Perusahaan asuransi kerugian bahkan
tidak akan mampu menghasilan perhitungan tarif (ratemaking)
dan informasi manajemen penting, apabila data yang dihasilkan
tidak kredibel. Dalam kasus ektrim, misalkan data eksposure
tidak tersedia, maka tidak akan ada perusahaan asuransi baik
besar atau kecil secara efektif mampu mengatur dan menghitung
tarif untuk produknya dengan baik.
Tidak
tersedianya informasi premi, klaim dan eksposure merupakan
pengertian yang naif dari konsep credibility theory dan
konsep partial credibility theory. Konsep ini yang
melatarbelakangi ratemaking di asuransi kerugian. Kekuatan
kepercayaan akan data akan tercermin dari nilai credibility
factor yang dihasilkan dari konsep credibility theory ini.
Sehingga tidak berlebihan jika banyak orang berpendapat
kredibiltas data merupakan kunci utama dalam menentukan tarif
premi.
Sumber–sumber
kesalahan yang memungkinkan data menjadi tidak kredibel, dapat
ditelusuri dari proses data tersebut dihasilkan. Rangkaian
proses, secara umum dimulai dari pengisian Surat Permintaan
Asuransi, dimana pada tahap ini sangat mungkin terjadi kesalahan
pengisian. Kemudian tahap pemasukan data (data entry),
tahap ini juga merupakan peluang besar terjadinya kesalahan.
Kesalahan dari kedua tahap ini dapat disebut kesalahan manusia.
Tahap selanjutnya adalah proses data, tahap ini merupakan
pembacaan data dan perhitungan data. Terakhir tahap pelaporan
data, dimana berisi serangkaian aktivitas penggelompokkan
data–data. Kedua tahap terakhir masih potensi membuat kesalahan,
kesalahan pada kedua tahap ini disebut kesalahan mesin.
Untuk
meminimalisasi kesalahan data tersebut, maka diperlukan kehati–hatian
dan ketelitian dalam melakukan serangkaian aktivitas di atas.
Jika data yang masuk bermutu jelek maka sudah dapat dipastikan
data yang akan dihasilkan juga jelek, alias GIGO (Garbage In
Garbage Out). Apabila manajemen menggunakan data seperti ini
dalam menyusun strategi perusahaanya, tentunya sudah dapat
dibayangkan apa yang akan terjadi atas perusahaanya.
Ketidakpercayaan atas data, masih menjadi bahan yang masih terus
diperhatikan dan tarif premi yang dihasilkan tentunya sangat
jauh dari kewajaran. (Rinaldi)
[ back to main
]