|
TRANSFORMASI BISNIS MENUJU EXCELLENT SERVICE
( Perjalanan ReINDO dalam Bisnis
Reasuransi )
Bayi
“samson” yang dikenal masyarakat asuransi dengan nama ReINDO
pada tanggal 12 November 2001 nanti akan genap berusia 5 tahun.
Dengan bantuan “dokter” dan kolega bisnis yang mengharapkan
kehadirannya, si bayi tumbuh menjadi besar, menuju jaman
ke-emasan induknya. Kini, ia tidak lagi merangkak seperti bayi
umumnya, namun ia telah berlari dan terus berlari. Arahnya
menuju suatu visi dan misi yang jelas. Kesalahan yang pernah
dialami induknya menjadi pelajaran berharga bagi sang bayi untuk
tidak “tersandung” kedua kalinya.
Reasuransi
sesuai perannya merupakan proses “dibalik layar” dalam industri
asuransi. Ia tidak terlihat secara langsung oleh tertanggung
tetapi memiliki posisi yang strategis bagi sebuah perusahaan
asuransi. Progam reasuransi yang berkualitas akan menentukan
kemampuan sebuah perusahaan asuransi dalam menutup berbagai
risiko yang diterimanya. Bagus tidaknya kualitas program
reasuransi tidak hanya tergantung pada kepiawaian perusahaan
asuransi dalam merancangnya tetapi juga sangat tergantung kepada
kekuatan dan kemampuan perusahaan reasuransi yang berada “dibelakangnya”.
Secara
teknis, kekuatan perusahaan reasuransi dapat diukur dari
kondisi keuangan dan dari kapasitas pertanggungan risiko tunggal
maupun risiko catastrope yang ia miliki atau dengan
bahasa sederhana perusahaan reasuransi yang kuat akan mampu
memenuhi semua kewajibannya dalam pembayaran klaim kepada
perusahaan asuransi yang menjadi customernya.
PT.
Reasuransi Internasional Indonesia atau lebih dikenal sebagai
ReINDO adalah satu dari sedikit pemain lokal di industri
reasuransi nasional. Mendengar ReINDO maka orang akan cepat
menghubungkannya dengan PT (Persero) Reasuransi Umum Indonesia
(INDORe), sebuah badan usaha milik negara yang bergerak dalam
sektor penyediaan jasa reasuransi.
Selama lebih
dari 43 tahun kiprahnya, tidak dapat dipungkiri bahwa INDORe
telah menjadi pemain utama dalam penyediaan kapasitas reasuransi
bagi industri asuransi nasional. Modal setor pemerintah yang
besar, kemampuan teknis yang tinggi telah membuat INDORe menjadi
pemain “senior” yang sangat dihormati pasar dalam maupun luar
negeri. Sangat disayangkan masa keemasan itu harus berakhir
karena kemudian INDORe terlibat dalam portofolio bisnis
berisiko tinggi.
Masa sulit
ini kemudian melahirkan “sang pangeran” yang telah menggantikan
peran “induknya” dalam percaturan bisnis reasuransi. Dengan
dukungan pemerintah dan industri asuransi nasional, pada tanggal
12 November 1996 REINDO pun didirikan. Sebagai perusahaan yang
baru berdiri dan dibayangi oleh kendala–kendala pada masa lalu,
ReINDO dituntut secepatnya mendapat pengakuan dari pasar. Untuk
itulah market share menjadi pilihan utama Manajemen
ReINDO pada awal berdirinya
Meskipun
ReINDO menjadi pemain termuda dengan modal Rp. 62.5 milyar pada
saat pendiriannya, namun dari sisi penguasaan pasar Reasuransi,
perusahaan ini menembus papan atas dalam kancah industri
Reasuransi nasional. Seperti yang disampaikan Direktur Utama
Reindo - Hendrisman Rahim kepada Harian Bisnis Indonesia, tahun
2001 Reindo menargetkan perolehan premi reasuransi sebesar Rp.
296.92 milyar. Sementara itu produksi premi pada posisi
September 2001 telah mencapai Rp. 256,368,425,985.-
Pencapaian
produksi premi melebihi 85 % sampai dengan kwartal III ini tidak
begitu mengherankan. Itu terjadi karena kapasitas pertanggungan
yang dapat diberikan oleh ReINDO baik untuk program
fakultatif maupun treaty kepada perusahaan asuransi
cukup besar. Lihat saja, untuk bisnis reasuransi umum, kapasitas
yang dimiliki ReINDO mencapai $ 64 juta. Sedangkan untuk
bisnis reasuransi jiwa masing-masing sebesar IDR 10,5 milyar
untuk Medical dan IDR 5,25 milyar untuk Non Medical. Kapasitas
sebesar itu merupakan hasil dari program retrosesi ReINDO yang
didukung oleh perusahaan-perusahaan reasuransi utama dunia.
Kepemilikan Negara dan kapasitas retrosesi yang didukung oleh
perusahaan reasuransi besar dunia merupakan dua pilar kekuatan
ReINDO dalam memberikan jasa reasuransi dalam industri asuransi
nasional.
Dengan
maksud melakukan transformasi bisnis dan mengembangkan apa yang
sudah dirintis oleh pendahulunya INDORe, Ir. B. Munir
Sjamsoeddin, MBA – ketika itu sebagai Direktur Utama pertama (saat
ini Presdir PT. TPI) dan kemudian diteruskan Drs.Hendrisman
Rahim MA, FSAI, AAIJ (Direktur Utama sekarang), membawa ReINDO
kepada suatu pola perubahan yang sangat mendasar. Perubahan
dengan process management oriented terus disederhanakan
dan diperbarui sesuai dengan tuntutan pelanggan dan teknologi
yang tersedia. Pola lama yang bersifat birokratis, bertele–tele
dan penuh lapisan dirombak menjadi struktur berdasarkan
aktivitas usaha (activity based) yang jauh lebih ramping
dan bersifat fungsional, sehingga respon terhadap keinginan
pasar menjadi semakin berkualitas dan cepat. Perubahan ini
menghasilkan organisasi fungsi dalam tiga Strategic Business
Unit (SBU) yaitu SBU Reasuransi Umum, Reasuransi Jiwa dan
Pengelolaan Dana.
Dalam perjalanannya, sesuai dengan tuntutan pasar yang terus
berubah, Reindo melakukan berbagai pembenahan yang konstruktif.
Paradigma usaha yang semula bertumpu pada Gross Premi
kini bergeser pada Hasil Underwriting Bersih. Manajemen
menyadari bahwa pencapaian target tidak saja didasarkan pada
tingkat Gross Premi belaka karena hal tersebut belum
menggambarkan business result secara menyeluruh tetapi
harus bertumpu pada Hasil Usaha Bersih yang positip. Banyak hal
yang dilakukan ReINDO menuju langkah tersebut, misalnya pada
bisnis Reasuransi umum (non life), prinsip speed
prudent underwriting dilakukan melalui pengevaluasian
underwriting guideline secara terus menerus. Setiap
Underwriter meng-evaluasi profil portofolio bisnis secara
periodik dan melakukan analisa risiko yang lebih tajam dengan
kajian akan tingkat Loss Ratio, range of sum insured,
severitas dan frekuensi klaim dari setiap okupasi dan
kecenderungannya terhadap waktu.
Sebagai
perusahaan jasa yang penuh dengan proses administrasi dan
disesaki aliran informasi dokumen, maka penanganan teknologi
informasi menjadi faktor strategis baik dalam manajemen risiko
maupun menjawab kebutuhan para pelanggan. Agar seluruh fungsi
proses dapat berjalan dengan baik dan cepat maka ReINDO
membenahi Teknologi Informasinya melalui pengaplikasiaan sebuah
sistem yang bernama Reins System yang menjadi urat nadi
seluruh informasi ReINDO. Seluruh data dari masing-masing
bidang seperti marketing, underwriting, finance, accounting,
dan statistik terintegarasi dalam reins system. Dengan
sistem ini setiap Underwriter atau Account Officer
dapat mengikuti perubahan – perubahan yang mungkin terjadi pada
exposure risiko atau Ceding Companies tertentu
dengan sangat cepat sehingga tindakan–tindakan yang proporsional
dapat segera dilakukan.
Tentunya perubahan pada basis proses diimbangi juga pada
perubahan kualitas layanan dan kualitas produk (quality
management). Prinsip being right at the first time and
conformance to customer requirement diterjemahkan dalam
wujud quality service, innovation management, benchmarking
dan langkah-langkah lainnya. Peningkatan kualitas produk
dilakukan dengan cara pengembangan unit product develovement
sebagai think tank dalam melakukan pengembangan dan
inovasi produk.
Sebagai langkah nyata, di Divisi Reasuransi Umum dibentuk unit
pengembangan produk dan actuarial. Unit ini berfungsi untuk
melakukan berbagai analisa terhadap rate premi asuransi dengan
mengembangkan modelling yang berbasis pada pendekatan
actuarial science. Model ini ditujukan untuk membuat standar
minimum rate yang dapat digunakan oleh para underwriter dalam
mengaseptasi bisnis dari ceding company. Walaupun belum genap
satu tahun, unit ini telah melakukan joint development
produk – produk asuransi dengan beberapa ceding company.
Peningkatan Pemahaman produk atau pengetahuan terkini tentang
risiko juga dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga – lembaga
penelitian seperti BMG, BPPT dan universitas–universitas
terkemuka di Indonesia. Apa yang telah ReINDO hasilkan
baru-baru ini bersama dengan Badan Meterologi dan Geofisika
berupa peluncuran Peta Gempa Bumi - membuktikan keinginan ReINDO
menjadi pemain dengan kredibilitas tinggi dalam pengetahuan
risiko.
Tentunya
kualitas produk tersebut diimbangi juga dengan kualitas
pelayanan. Adalah Drs. S.Setiawan, Dipl.Ins, MBA yang
menjadi pemegang kemudi dalam urusan ini. Direktur Teknik dan
Marketing ReINDO yang ketika itu masih menjabat sebagai Kadiv
banyak mengadakan perubahan yang progresif dalam pendekatan
marketingnya. Pendekatan dilakukan secara sistematik untuk
setiap ceding companies. Data mengenai ceding companies,
terkumpul dalam sebuah sistem yang dinamakan customer data
base. Pendekatan ini membuahkan hasil peningkatan yang
dramatis dalam jumlah program treaty sebagai leader dan
penawaran bisnis fakultatif. Untuk penawaran fakultatif
asuransi umum saja, sampai akhir tahun nanti, diproyeksikan
ReINDO akan menerima hampir 10.000 risiko. Suatu jumlah yang
boleh dibilang sangat besar karena jumlah ini naik hampir 40%
dari penawaran tahun sebelumnya.
Mengingat
persaingan yang semakin ketat maka pada tahun ini ReINDO tengah
mengembangkan program marketing yang bertumpu pada dua hal yaitu
personalized relationship dan knowledge based
marketing. Beberapa program seperti kegiatan nice week
end dan seminar yang membahas risiko tertentu yang telah
dilaksanakan merupakan refleksi dari dua hal tersebut. Nice
week end adalah acara santai bersama ReINDO yang dirancang
khusus bagi Ceding Company untuk mempertemukan
key persons perusahaan asuransi dengan sejawatnya di ReINDO.
Diluar pertemuan informal seperti
golf/tennis/football - fun game, sebagai jembatan komunikasi
dengan ceding, ReINDO mengembangkan majalah ReINFOKUS
yaitu majalah dua bulanan yang didistribusi di kalangan
industri asuransi Indonesia dan regulator. Jelas belum
dapat dibandingkan dengan Sigma-nya Swiss Re tapi merupakan
bukti nyata semangat dan kedinamisan staff–staff muda ReINDO.
Sebagai
sebuah service organization, ReINDO memiliki
kepemimpinan dan cara pengelolaan sumber daya manusia (people
management) yang berbeda. Pemberdayaan dan pelaksanaan
prinsip good corporate governance seperti fairness,
transparancy, responsibility dan accountability mutak
menjadi syarat dari sebuah keberhasilan.
Menuju
kearah pengelolaan SDM yang handal dibawah Indrastono Soekarno,
SE, MBA konsep leadership development, culture, competence
and character buiding dikembangkan melalui banyaknya
pelatihan leadership tingkat managerial, pelatihan kemampuan
teknis, dan pembentukan core value ditengah-tengah
perusahaan.
Impian
“menjadikan ReINDO kembali menjadi pusat pengetahuan asuransi
dan reasuransi Indonesia” akan menjadi kenyataan dengan
pengiriman bergelombang untuk mengikuti program kualifikasi ACII,
magister pada bidang Aktuaria dan program magister
pada disiplin ilmu lainnya.
Agar dapat
bertahan terhadap perubahan dan mampu tumbuh secara
berkesinambungan, ReINDO tidak henti-hentinya mengikuti proses
pembelajaran (learning organization) dan melakukan kreasi
terhadap pengetahuan yang dimiliki (knowledge creating).
Perubahan bukan hanya dilakukan pada tatanan paradigma usaha,
namun makna pergeserannya dapat dirasakan oleh seluruh unit
kerja. Suasana kerja yang tadinya cenderung tertutup diubah
menjadi terbuka.
Kebiasaan
saling berbagi informasi dan berdiskusi dengan tajam juga terus
dikembangkan, kelompok–kelompok diskusi seperti Forum Sharing
dan ReINDO Discussion Club (RDC) membuktikan hal ini.
Hampir semua hal yang berkaitan dengan bagaimana sebaiknya
ReINDO dijalankan dapat didiskusikan secara terbuka dan lugas
dalam forum-forum kecil maupun forum terbuka., Tidak
mengherankan bila setiap orang dapat berdiskusi atau mengkritisi
secara bebas dengan Direktur Utama atau Direksi lainnya lewat
e-mail maupun pertemuan informal. Diskusi ini menjadi
sarana yang sangat penting bagi pengambil keputusan untuk
mengetahui kondisi aktual perusahaan. Budaya ini secara sengaja
atau tidak telah memacu seluruh karyawan untuk terus melakukan
evaluasi dan menemukan solusi-solusi kreatif dalam memecahkan
berbagai permasalahan sekaligus mengembangkan berbagai metode
yang telah ada.
Semua
transformasi yang dilakukan diarahkan pada tercapainya excellent
service bagi seluruh customer. Wujud ReINDO Excellent
Service (RES) distandarisasi dalam masing masing unit kerja
seperti respon telepon, respon surat/fax dari customer, respon
akseptasi/penolakan, proses dan konfirmasi klaim, pengiriman
STOA , konfirmasi STOA, pembayaran saldo utang-piutang,
pembayaran cash-loss dan laporan keuangan. Transformasi bisnis
diupayakan menuju perusahaan kelas dunia. Ini sesuai dengan visi
ReINDO dan menjadi komitmen bersama dari manajemen puncak serta
partisipasi aktif seluruh karyawan dengan kesadaran bahwa
transformasi adalah suatu kebutuhan bukan tuntutan atau
kewajiban.
Hanya dengan
cara Kombinasi antara kekuatan modal dan kapasitas dengan
kemampuan SDM yang teruji serta responsif terhadap perubahan
serta sistem teknologi informasi yang handal, ReINDO mampu
menjawab tantangan kebutuhan industri asuransi nasional dan
memberikan solusi-solusi kreatif bagi perusahaan asuransi dalam
menangani berbagai permasalahan yang dihadapi dan ReINDO telah
melakukannya.
Dari semua
yang sudah dirancang dan dilaksanakan ReINDO, pertanyaannya
adalah apakah semuanya itu akan membawa hasil yang diharapkan?
Sayang di Industri ini semuanya baru akan terbukti beberapa
tahun ke depan.
Seperti yang
ditulis dalam sebuah pepatah “Jangan Lawan Arus Bila Tidak Ingin
Tenggelam”, ReINDO sadar bahwa dia hanyalah setetes air dalam
lautan globalisasi bisnis dunia. Pembenahan yang konstruktif
terus dilakukan, agar setetes air tadi terus berkembang.
Siang
berganti malam
matahari tak lagi bersinar Badai panjang terus menghempas
Kapal-kapal berhenti berlayar
Kini
Lampu Mercu Suar mulai terang kembali.Memperjelas jalan bagi
nahkoda kapal yang ingin berlabuh.Hidup ReINDO, Selamat Ulang
Tahun ke – 5, semoga tetap jaya. Yeeahh.
(Ditulis
oleh Arnold, Arie, Kocu, Novis, Rinaldi dan Robert)
[
back to main
] |