“RENEWAL REINSURANCES TREATIES
2002”
Seperti biasa, bulan Nopember dan Desember selalu merupakan
bulan yang tidak menyenangkan bagi pelaku bisnis. Mengapa? Hal
ini tentu tidak jauh dari target produksi yang tidak tercapai,
biaya yang membengkak, dan banyak hal lainnya yang pada awal
tahun sudah di rencanakan dengan sangat matang, penuh dengan
asumsi yang begini dan begitu, ternyata meleset.
Tidak
terkecuali dunia Asuransi dan Reasuransi, setelah kejadian WTC
11 September lalu yang dampaknya sangat dashyat, mengakibatkan
market berubah menjadi panik, putus asa dan tak tentu arah.
Semua “pemain” dilanda kebingungan. Bagaimana prospek bisnis
tahun depan? Di rumah sendiri, Indonesia, Profesional Re
menyatakan tidak memberikan dukungan lagi terhadap penutupan
dengan extended coverages Terrorism and Sabotage sejak
tanggal 20 Oktober 2001. Hal ini semata-mata adalah untuk
mengurangi exposure risiko tersebut karena
ketidakpastian akan dukungan retrocessionaire yang notabene
kebanyakan berasal dari Lloyd market. Seperti kita semua tahu
Lloyd terkena dampak yang besar dari peristiwa 11 September.
Kalau
bisa ditarik kesimpulan dari rumor yang beredar di pasar,
banyak perusahaan asuransi dan reasuransi tidak akan mendapat
cover Terrorism & Sabotages, kalau pun ada maka harganya
akan sangat mahal. Para Reasuradur dalam negeri tentu tidak akan
berani menahan sendiri risiko-risiko yang run off.
Sehingga akan timbul pertanyaan, “kalau pun mahal, seberapa
mahalnya? Disusul “sanggupkah anda membayarnya?” “Bagaimana
caran anda membayarnya?” Mengikut
istilah orang ngobrol dikedai kopi, market luar negeri
menetapkan rate di Indonesia dengan rating untuk natural peril
minimum 1-2%o dengan PML 30% of Sum Insured !! Jika anda
membutuhkan proteksi untuk exposure tersebut terhadap
net account anda. Mampukah anda membeli covernya? Anda bisa
hitung sendiri kemampuan anda. Keadaan di atas semakin
diperburuk dengan kenyataan semakin anjlok-nya harga
premium di Indonesia, mengakibatkan paradigma menjadi terbalik,
dimana pelaku bisnis yang melakukan prudent underwriting
yang dikatakan tidak tahu perkembangan zaman bahkan kadang
ditertawakan. Sedangkan yang tidak melakukan underwriting secara
prudent malah dianggap sebagai orang pintar dan hebat
dalam mendapatkan bisnis. Sedangkan kita sama-sama sudah
mengetahui juga bahwa tingkat risiko sangat terkait degan
adequate premium. Tapi kenyataannya sekarang ini, misalnya
di bisnis property, jika kita ambil rate untuk natural peril,
walaupun ditingkat minimum, maka kita akan mendapatkan rate
Flexas nil atau bahkan negative. Sekali lagi bagaimana
cara kita akan membayar kapasitas yang skarng tiba – tiba
menjadi sangat mahal ini?
Mengurangi exposure? Kalau kita telaah lagi, pengurangan
exposure yang run off juga berarti pengurangan
premium. Bagian premi manakah yang dikurangi menjadi tidak jelas
karena untuk risiko tersebut, premi sebenarnya tidak pernah
diperhitungkan. Reasuradur dalam negeri terpaksa mengambil
keputusan yang sangat berat dan sebenarnya sangat bertentangan
dengan kata hati mereka, termasuk ReINDO. Tapi apa boleh buat ,
They have to protect their own too.
Kembali kepada apakah cover akan kita peroleh ??? Ini yang
belum jelas sampai saat ini .
Gejala
lainnya yang berkembang dimarket sekarang ini yang sudah mulai
menyimpang dari praktek-praktek yang berlaku umum misalnya,
jika dulu leader
treaty telah menetapkan R/I com 35% maka panel lainya
akan menyatakan “share 35% subject to T/C as Leader”.
Sekarang mereka bisa saja menyatakan maximum R/I Commission
30%, We are Not Follow Your Leader.
Hal ini tentu akan menimbulkan banyak masalah.
Sekarang mau dibawa kemana dunia asuransi kita? Kita memang
tidak bisa membandingkan WTC di USA dengan ATRIUM di Senen,
walaupun Atrium Senen sudah di Bom (untuk bomnya hanya bom pupuk)
untuk yang ketiga kalinya, tetap saja ratenya tidak lebih besar
dari 1-2%o dan rate untuk RSMD TSCC dan peril lainnya bisa
dikatakan N I L .
Akan
tetapi tanda bahaya cukup jelas didepan mata, Inadequate
Premium sudah sampai pada titik paling rendah. Dimana
anda sudah tidak mampu membeli back up dengan premi yang
anda kumpulkan, sehingga terpaksa menguras source lainya.
Sebagai pelaku bisnis asuransi, kita tahu bahwa untuk
menghindari risiko itu tidak mungkin, yang ada hanya bagaimana
mengelola risiko dan termasuk mengelola portfolio. Premium saja
sudah tidak ada, bagaimana kita bisa membentuk portfolio?
Bagaimana kita mau mencadangkan premium kita untuk membayar
klaim di masa depan? Bagaimana anda akan mendapatkan back up
reasuransi jika anda mensesikan risiko yang mempunyai premium
yang inadequate? Dan tentunya reasuradur anda kesulitan
dalam membayar back up retro yang relatif mahal?
Makanya .....kita ini sudah bukan di zaman kuda gigit besi, ini
bukan zaman perang harga. Kita hanya berpikir
sebagai seorang pecundang, tidak jangka panjang. Perang di
dunia asuransi sebenarnya adalah perang service dan
professional. Yang kita jual adalah janji ! Emamng sulit tapi
selalu ada harapan. Awal tahun 2002 moment yang baik untuk
perubahan . Back lah to basic. (Mulki, Asst. Risc
Consultant & Underwriter Treaty)
[
back to main
] |