|
GE CEO vs BUMN CEO
John F Welch, CEO General Electric (GE) yang
lebih dikenal sebagai Jack Welch oleh Financial Times sebagai
THE MOST RESPECTED BUSINESS LEADER, sedangkan Fortune
menobatkannya sebagai manajer abad ini. Di bawah
kepemimpinannya, GE menjadi perusahaan yang paling dikagumi (versi
Fortune) sekaligus paling dihormati (versi Financial Times) di
AS.
Anda ingin tahu bagaimana rasanya dipimpin oleh
CEO GE? Berikut petikan diskusi Jack Welch dengan sejumlah
pimpinan BUMN di Indonesia dalam sebuah pertemuan beberapa
waktu yang lalu .
“ Saya ingin bicara kepada Anda dalam beberapa
menit dan saya harap ini berakhir dengan tanya jawab sehingga
kami tahu apa yang ada dibenak Anda dan kita dapat saling
bertukar pikiran tentang manajemen.
Wajar kalau saya
mengulas isu manajemen yang menjadi acuan di GE selama 20
tahun. Saya akan coba memberikan sedikit latar belakang
tentang hal ini kepada Anda. Sebelumnya mari kita mulai dari
dua hal dasar organisasi.
Pertama : Dalam organisasi Anda harus
melibatkan semua orang.Tidak ada alasan bagi suatu organisasi
untuk tidak memakai pikiran, energi dan vitalitas semua orang
yang memperkuat organisasi tersebut.
Kami punya birokrasi yang berusia 110 tahun,
lalu kami menjalani proses yang disebut (work out).
Kami menghabiskan waktu tiga setengah tahun untuk melakukan
pertemuan dengan para pekerja, manajer dari pabrik dan
golongan lain untuk mendengarkan ide mereka. Tapi pertama kali
pertemuan, mereka sepertinya tidak yakin dengan apa yang kami
inginkan. Mereka berkata : “Anda tidak ingin ide kami, Anda
hanya menginginkan otot (tenaga ) kami.” Setelah tiga setengah
tahun mengadakan work out yang jumlahnya tidak
terhitung itu pemimpin harus menjawab dengan mengatakan iya
atau tidak di ruang seperti ini dimana didalamnya terdapat
antara 40 sampai 50 orang. Pemimpin harus membuat keputusan
iya atau tidak dan 25% dari mereka memberikan jawaban dalam 30
hari. Kita harus meyakinkan orang bahwa apa yang mereka
katakan itu penting. Dengan demikin diharapkan mereka tahu
bahwa pemberian ide tidak tergantung pada tinggi rendahnya
jabatan. Yang penting ide itu bagus dan kami menyakini hal ini
dalam perusahaan kami.
Kedua : yang tidak kalah penting adalah
organisasi selalu belajar. Jika saya mendengar ide dari Anda
dalam pertemuan ini maka saya akan membawanya ke perusahaan
kami. Jadi kami menciptakan sejumlah nilai untuk menjalankan
prinsip-prinsip ini.
Kita membicarakannya dalam cakupan tiga nilai.
Pertama adalah prilaku yang tidak terbatas (boundaryless
behavior). Disini kita bebas bergerak untuk mendapatkan
saran terbaik. Kami bangga dengan kenyataan bahwa kami tahu
banyak tentang Kualitas 6 Sigma dari Motorola dan kemudian
mengembangkannya. Kami belajar manajemen aset dari Toyota.
Oragnisasi yang sangat ingin mengetahui sesuatu selalu aktif
bergerak dan mencoba mencari kiat yang lebih baik.
Kemudian kita mendorong orang memikirkan nilai
kedua yaitu kecepatan. Beberapa orang disini yang
bekerja lebih lambat dibandingkan dua tiga tahun lalu. Berapa
kali Anda membuat keputusan dalam hidup Anda dan berkata :
“Saya berharap bisa menunggu enam bulan sebelum mengambil
keputusan itu.” Tapi hal ini juga tidak pernah terjadi. Yang
terpenting disini adalah kita bertindak cepat.
Nilai ketiga adalah jangkauan, bukan
proses bujet yang tidak masuk akal. Apa itu proses bujet ?
Bujet artinya Tanri Abeng (MenNeg P-BUMN yang hadir saat
presentasi ini) bos saya, dan saya bekerja untuknya. Saya
menyodorkan banyak argumen meyakinkan dia bahwa kemampuan saya
dua. Tapi dengan posisi kunci yang dipegangnya Tanri Abeng
bisa menilai kemampuan saya empat. Itu pikiran dia. Lalu kami
melakukan kompromi. Kami bekerja sepanjang hari dan hasilnya
ternyata tiga. Saya bekerja siang malam guna menunjukan
kemampuan saya tidak seberapa, sedangkan Tanri Abeng bekerja
keras mengoptimalkan apa yang bisa saya lakukan.
Jangkauan dan impian selalu berkaitan dengan
usaha membangun kepercayaan disekeliling organisasi, cara
melibatkan orang untuk mengembangkan usaha tersebut dan
bagaimana menghadapi pesaing. Bujet adalah negosiasi internal
dan tidak ada pelanggan atau pesaing yang terlibat didalamnya.
Saat Anda memaparkan angka di akhir tahun, satu-satunya yang
terpikir adalah kiat Anda menghadapi pesaing dan puas tidaknya
pelnggan.
Sekarang waktunya bagi saya untuk masuk ke
topik berikutnya, yaitu tentang jenis manajer. Ada empat jenis
manajer. Jenis pertama adalah manajer yang menciptakan ide dan
punya nilai. Mengahadapi mereka mudah, beri saja penghargaan.
Lalu kedua, ada manajer yang tidak dapat
menciptakan ide dan tidak memiliki nilai. Menghadapi yang ini
juga tidak sulit, keluarkan saja mereka dari organisasi.
Ketiga adalah manajer yang punya nilai tapi
tidak bisa memberikan ide. Dalam menghadapi mereka beri
kesempatan pertama, kedua, ketiga karena manajer jenis
tersebut masih berusaha memahami perilaku, kecepatan dan
jangkauan yang tidak terbatas.
Yang paling merugikan sebagian perusahaan
adalah jenis keempat yaitu manajer yang punya ide tapi tidak
punya nilai. Mereka tidak keluar untuk mencari ide dan selalu
melakukan negosiasi internal.
Anda mendorong nilai untuk mendukung apa yang
Anda inginkan dan harus banyak berjalan untuk mencari ide. Ini
tidak ada kaitannya dengan pidato. Ini berkaitan dengan
prilaku.
Hal lain mengenai organisasi yang berkaitan
dengan sifatnya yang ingin saya ceritakan kepada Anda adalah
kegesitan.
Ada baiknya saya bercerita sedikit tentang
kondisi ketika saya menerima tugas sebagai pimpinan GE ini
pada Desember 1980. Harga minyak saat itu $35 per barel dan
setiap saat dapat saja menembus $100 per barel. Presiden AS
mengumumkan bahwa AS diterjang prahara ekonomi dan Jepang
bersiap mengambil alih kendali dunia. Tingkat inflasi waktu
itu sebesar 17% dan diperkirakan akan bertahan pada level dua
digit. Coba pikir masa dimana kita berada sekarang. Saya tidak
yakin jika ada yang hadir dalam ruangan ini tahu krisis bakal
menghantam Asia. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita
menanggapinya. Saat Eropa disebut-sebut tumbuh awal 1990-an
dan sosialisme berjaya, kami mengalokasikan dana sebesar $23
milyar untuk membeli sejumlah perusahaan.
Sewaktu Peso Meksiko merosot tajam pada tahun
1996 kami membeli 18 perusahaan dalam 90 hari. (GE)
melaksanakan ini bukan karena kami merasa hebat tapi karena
kami yakin negara dengan garis perbatasan sepanjang 20.000 mil
dengan AS itu memilki prospek jangka panjang yang bagus dan
kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Saat Meksiko hancur,
kami melihatnya sebagai satu perusahaan dan kami berusaha
menjaganya agar tetap hidup.
Kami juga membeli sejumlah perusahaan Jepang
seharga $30 milyar dalam 18 bulan terakhir. Kami tidak tahu
kalau kami berhasil atau sebaliknya. Namun saya percaya
kesuksesan akan datang. Negara ini punya populasi yang relatif
besar, terpelajar dan hukumnya jelas.
Kenapa perusahaan AS berantakan pada 1980 ?
Jawabanya adalah mereka berusaha mengatur ukuran, bukan
menggunakannya. Salah satu alasan untuk membenarkan ukuran
yang besar adalah Anda bisa melakukan banyak hal yang tidak
semuanya benar.
Tahun lalu kami melakukan 180 akuisisi senilai
$26 milyar. Dalam 90 hari terakhir pengambilalihan yangkami
lakukan sebanyak 67 dengan nilai mencapai $14 milyar. Setiap
kesepakatan yang saya lihat dan tandatangani terlihat sempurna,
padahal Anda tahu tidak begitu.
Apa yangdilakukan perusahaan besar AS itu ?
mereka mulai menentukan ukuran. Mereka punya kantor yang besar
dan birokrasi yang berlapis-lapis. Satu-satunya alasan untuk
besar – sementara organsasi kecil bisa bergerak cepat dan bisa
melakukan banyak hal – adalah mampu bertarung atau bermanuver
setiap waktu. Ini yang tidak dapat dilakukan perusahan kecil
karena jika mereka kalah, mereka akan terlempar dari permainan.
Inilah kegunaan ukuran. Anda harus memanfaatkannya.
Terakhir saya juga ingin sedikit menyingung
tentang orang karena pada akhirnya ini semuanya mengenai orang.
Saya ingin berpikir tentang manajemen yang memilki 4E.
E pertama adalah energi yang sangat besar.
Dengan pergerakan global dan bisnis yang tergantung pada
internet, energi menjadi faktor penting.
E kedua adalah kemampuan menginjeksi energi
kepada orang. Pemimpin berenergi besar namun tak mampu
membangkitkan mimpi dan semangat orang adalah pemimpin yang
paling buruk.
E ketiga adalah keunggulan. Keuntungan tidak
lepas dari kata iya atau tidak. Kita tidak menginginkan kata
mungkin.
E kempat adalah eksekusi. Pada akhirnya, Anda
mungkin punya energi, keunggulan. Sesuaikanlah eksekusi dengan
imbalan. Pastikan semua orang dapat keuntungan. (Dicuplik dari
Bisnis Indonesia, 7 Januari 2000)
[
back to home ] |