Waspadai
Perubahan Iklim
Musim hujan selalu saja
merepotkan. Hujan lebat yang melanda akhir-akhir ini telah menimbulkan
kerugian besar. Ribuan penduduk mengungsi, infrastruktur rusak dan
bangunan terendam.
Musim hujan di Indonesia
terjadi antara Oktober dan April dengan puncaknya dibulan Desember. Namun
pakar klimatologi BMG, DR. Paulus Agus Winarso, mensinyalir telah terjadi
anomali cuaca bahkan penyimpangan iklim. Musim hujan kali ini adalah salah
satu buktinya, dimana puncak curah hujan tidak hanya di bulan Desember
tapi juga di awal Pebruari.
"Namun harus diingat
bahwa banjir tidak semata-mata disebabkan oleh gejala perubahan iklim.
Topografi wilayah, kondisi teknik tanggul dan tata guna lahan juga sangat
berpengaruh. Ditambah lagi kerusakan hutan yang sangat mengkhawatirkan,"
ungkap Winarso kepada ReINFOKUS di ruang kerjanya belum lama ini.
"Jakarta adalah contoh nyata, drainase dan tata kota yang buruk
menyebabkan perjalanan air sungai menuju laut terhambat dan terjadilah
genangan di mana-mana."
Winarso yang juga mengajar
di UI, ITB dan IPB, lebih lanjut menguraikan bahwa BMG masih menghadapi
kendala dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap peramalan BMG. Hal
ini membuat Indonesia belum memiliki sistem peringatan dini yang baik
terhadap bencana alam.
Industri asuransi jelas
mempunyai kepentingan yang tidak kecil terhadap fenomena alam ini karena
keganasannya dapat merusak objek pertanggungan baik di darat maupun dilaut.
Informasi dan pengetahuan tentang cuaca dan iklim akan sangat membantu
dalam menetapkan kebijakan underwriting yang tepat dan bijaksana.(bowo)
SEMINAR
TSFWD
ReINDO mengangkat isu perubahan
iklim dengan menggelar seminar bertajuk "TSFWD (Typhoon, Storm, Flood
and Water Damage) Akibat Perubahan Iklim Global dan Lokal dan Pengaruhnya
terhadap Industri Asuransi", pada hari Rabu, 14 Maret 2001 di Hotel
Acacia, Jakarta. Tampil sebagai pembicara DR. Paulus Agus Winarso, Kepala
Bidang Ramalan dan Jasa, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan U.A.
Patrick, General Manager PT. Satria Dharma Pusaka Crawford THG, sebuah
perusahaan penilai kerugian.

Direktur Utama ReINDO, Hendrisman
Rahim, pada sambutan pembukaannya mengatakan bahwa seminar ini adalah
wujud perhatian ReINDO terhadap risiko-risiko act of god dan merupakan
kelanjutan dari seminar "Earthquake for Underwriter" yang
diadakan bulan September 2000.
Pada seminar yang diikuti oleh 110
underwriter dari 50 perusahaan asuransi umum, DR. Winarso menekankan bahwa
para underwriter seharusnya memahami bahwa iklim selalu berubah dari waktu
kewaktu secara evolusi. Perubahan itu dapat dilihat dari elemen-elemen
iklim antara lain suhu, angin, kelembaban dan curah hujan. Data
menunjukkan bahwa pada dekade terakhir abad ke-20 telah terjadi variasi
iklim yang lebih besar dibandingkan masa lalu. Perubahan iklim ini membawa
banyak dampak termasuk pada harta benda yang diasuransikan..
Sementara itu U.A Patrick yang berpengalaman
menangani berbagai kerugian yang disebabkan oleh banjir memfokuskan
makalahnya pada endorsemen 4.3 dari Polis Standar Kebakaran Indonesia (PSKI)
yang menjamin kerugian akibat iklim. Ia berpendapat bahwa risiko-risiko
yang dijamin oleh endorsemen ini hendaknya mendapat perhatian lebih dari
underwriter karena berpotensi menimbulkan kerugian yang besar. (bowo/delil)
[ back to main
]