SOPANKAH MEMANGGIL ATASAN DENGAN NAMA SAJA?

Pesatnya perkembangan teknologi informasi mengaburkan batas wilayah antar negara. Bila anda memiliki seperangkat komputer yang dilengkapi fasilitas untuk mengakses internet, maka dunia berada diujung telunjuk anda. Dampak positif dan negatifpun mulai dapat dirasakan. Budaya dan kebiasaan baru kini mulai tumbuh dan berkembang di lingkungan ketimuran kita. Masuknya penanaman modal asing dan profesional-profesional asing ikut menjadi pupuk bagi tanaman bernama budaya asing itu.

Salah satu budaya tersebut adalah memanggil teman sekerja, terutama yang lebih tua, atau atasan cukup dengan nama saja, tanpa didahului Pak, Bu, Sir atau Mom. Kebiasaan yang bagi budaya timur dirasa kurang sopan karena sebutan sebelum nama itu dianggap sebagai ungkapan rasa hormat kepada seseorang.

Dalam suatu pelatihan manajerial yang diberikan oleh konsultan manajemen asing yang penulis ikuti baru-baru ini, budaya tersebut diperkenalkan. Selama tiga hari pelatihan peserta diharamkan memanggil instruktur atau peserta lain dengan embel-embel Pak atau Bu. Siapa saja yang keceplosan dikenakan denda, satu kali Pak atau Bu berharga Rp 5000.

Mengapa memanggil nama saja tanpa Pak atau Bu? "Agar lebih akrab. Lagi pula tidak ada yang menjamin jika seseorang memanggil anda dengan Pak atau Bu berarti ia menghormati anda," demikian jawaban instruktur. Jawaban yang memang masuk akal.

Bagaimana kalau kebiasaan langsung menyebut nama ini diterapkan dilingkungan kerja? Muncul pro dan kontra pada para peserta pelatihan. Mereka yang setuju mendukung alasan sang instruktur, yang tidak setuju mengajukan dua alasan. Pertama, ada rasa segan/tidak enak meski yang disebut namanya tidak keberatan. Kedua, ada keyakinan bahwa bila anda ingin dihormati maka anda harus menghormati orang lain terlebih dahulu.

Akhirnya silahkan anda putuskan apakah budaya itu dapat diadopsi atau tidak dilingkungan kerja anda. Masalahnya terletak pada cocok atau tidak dengan lingkungan anda dan yang paling penting sesuaikah dengan nurani anda. Terlepas sopan atau tidak sopan, budaya tersebut telah banyak berkembang di perusahaan-perusahaan Indonesia. (radix)

[ back to main ]