Mengenal Petir

Polis Standar Kebakaran Indonesia (PSKI) menjamin kerugian atas harta benda yang dipertanggungkan yang secara langsung disebabkan oleh sambaran petir. Risiko sambaran petir ini memang perlu mendapat perhatian serius, terutama untuk risiko-risiko industri dengan harga pertanggungan relatif besar dan rawan terhadap kebakaran.

Bagaimanakah petir terjadi?

Secara lugas petir adalah loncatan muatan negatif (sebagian besar) dari awan menuju tanah. Mengapa muatan negatif ini bisa meloncat dari awan? Kejadiannya sama dengan mengalirnya listrik pada kabel-kabel dan peralatan listrik dirumah kita. Muatan mengalir karena ada perbedaan beda potensial. Beda potensial ini analog dengan perbedaan ketinggian yang menyebabkan air dapat mengalir. Bila dirumah hanya diperlukan beda potensial 220 Volt untuk membuat muatan negatif mengalir pada tembaga yang hambatan listriknya rendah, sedangkan agar terjadi petir dibutuhkan beda tegangan antara awan dan tanah sekitar 15.000 Volt/cm.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana bisa timbul tegangan sebesar itu antara awan dan tanah? Ada beberapa teori, yang paling populer menerangkan bahwa es yang timbul pada butir-butir air di awan menyebabkan awan terbagi menjadi dua wilayah, ada wilayah positif di bagian atas awan dan negatif di bagian bawah dimana es biasanya lebih suka berkumpul. Hal ini didukung oleh eksperimen yang menunjukkan bahwa es cenderung menjadi lebih negatif dibandingkan air. Bagian negatif awan inilah yang kemudian menginduksi tanah menjadi positif dengan tegangan yang terus naik. Pada saat beda tegangan sampai pada ambang yang sanggup membuat muatan negatif berpindah agar tanah menjadi netral maka kita melihat petir.

Lalu bagaimana dengan suara guntur yang kita dengar?

Pada saat muatan negatif berpindah, karena kecepatan dan energi yang dimilikinya, muatan ini bertabrakan dan bergesekan dengan molekul-mulekul udara yang berada pada lintasannya. Akibatnya, temperatur udara pada lintasan tersebut naik hingga 8.000-12.000 °C dalam waktu kurang dari seperseratus detik. Apa yang kemudian terjadi adalah persis seperti kalau kita meniup balon dan pecah. Udara, karena panas yang sangat tinggi mengembang dengan sangat cepat dan terdengar bunyi yang keras sebagai akibat tabrakan sesama molekul udara.(kocu)

[ back to main ]