INTELIJEN
PEMASARAN
Webster
mendefinisikan intelijen sebagai berita/kabar, informasi, atau bahkan
pengumpulan informasi "rahasia". Sedangkan Rosenberg
mengartikannya sebagai kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan atau
belajar dari pengalaman hidup.
Lalu apa kaitannya
dengan pemasaran? Kaitannya ada pada informasi atau pengetahuan tentang
perilaku konsumen, pesaing, saluran distribusi, kebijakan publik dan
perusahaan sendiri.
Sistem intelijen
pemasaran merupakan bagian dari sistem informasi pemasaran serta sangat
erat kaitannya dengan sistem catatan intern perusahaan dan riset pemasaran.
Kotler mendefinisikan sistem intelijen pemasaran sebagai seperangkat
prosedur dan sumber yang digunakan oleh para manajer untuk mendapatkan
informasi sehari-hari tentang perkembangan-perkembangan yang berkaitan
dengan lingkungan pemasaran. Informasi itu dapat berasal dari dalam
perusahaan sendiri, konsultan riset pemasaran, biro periklanan, pemasok,
pelanggan bahkan pesaing.
Setidaknya ada empat
cara pengumpulan informasi yang dapat dilakukan oleh seorang manajer yaitu
pengamatan tanpa arah yang jelas, pengamatan terkondisi, pencarian secara
informal dan pencarian secara formal.
Intelijen pemasaran
sudah banyak dipakai secara profesional sebagai suatu alat diplomasi oleh
perusahaan yang bersaing. Persaingan menjadi dasar pengembangan intelijen
pemasaran, baik secara nasional maupun global.
Kapan perusahaan anda
memerlukan intelijen pemasaran? Penurunan efisiensi dan kemampulabaan
perusahaan, pesatnya perkembangan teknologi, perubahan budaya dan
meningkatnya kerusakan dan pengrusakan adalah tanda-tandanya.
Dalam kenyataannya,
intelijen pemasaran tidak selalu berjalan mulus. Kebanyakan kegagalan
dipicu oleh perencanaan yang tidak akurat akibat kurang atau
ketidaktepatan informasi, dana yang tidak memadai, personil yang kurang
cakap serta birokrasi yang tidak jelas.
Metode intelijen
pemasaran bisa sistematis atau tidak sistematis. Membaca buku, koran atau
publikasi bisnis, berbincang dengan pelanggan atau manajer lain merupakan
contoh metode yang tidak sistematis. Metode sistematis antara lain
diwujudkan dengan melatih atau memotivasi marketer agar menjadi
"mata" dan "telinga" bagi perusahaan, membeli
informasi atau membangun sendiri pusat informasi pemasaran, evaluasi dan
analisa, serta menyebarkan dan merespon.
Metode yang sistematis
mestinya mencakup pula beberapa langkah yang sistematis pula yaitu
mempersiapkan sistem, mengumpulkan informasi secara terus menerus,
evaluasi dan analisa lalu menyebarkan dan merespon.
(Radix/dari kuliah
umum Dr. Basu Swastha Dharmesta,MBA)
[ back to main
]