Banjir itu....Longsor itu.....

Tak putus dirundung malang.  Ungkapan ini barangkali tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.  Belum lagi masalah ekonomi tuntas, suhu sosial politik terus memanas.  Dimana-mana rakyat bertikai, nyawa manusia menjadi tidak ada harganya.  Aceh dan Irian Jaya tak henti berteriak ingin merdeka.

Musibah terkini adalah banjir dan longsor yang datang layaknya pelancong kaya raya.  Seolah-olah seluruh wilayah Indonesia hendak dikunjunginya.  Bermula dari Cilacap, Purworejo, Kulonprogo lalu loncat ke Sumatera Barat, Kerinci, Aceh dan Dairi.  Berikutnya Manado lalu Sumbawa. 

Meski sepuluh tahun terakhir bencana alam -terutama gempa bumi, tsunami dan banjir- sering melanda Indonesia, tetapi tidak sampai memberi pengaruh signifikan pada industri asuransi.  Hal ini dapat dimaklumi mengingat daerah-daerah terkena bencana bukanlah daerah “gemuk”.  Keberuntungan ini rupanya membuat industri terlena dan berpikir seakan-akan potensi kerugian akibat bencana alam di Indonesia hampir tidak ada.  Ditambah tekanan kompetisi yang semakin ketat, jadilah suku premi bencana alam Indonesia demikian tipisnya, bahkan mencapai titik nol.  Tidak mengherankan bila selanjutnya pasar reasuransi internasional mulai enggan berpartisipasi.

Kini tiba saatnya kita harus sungguh-sungguh memperhatikan risiko ini karena sama sekali tidak ada jaminan bahwa Dewi Fortuna akan selamanya berbaik hati kepada industri asuransi nasional.

(delil/claim and reinsurance administration division

 

[ back to home ]