Catatan dari FAIR Seminar on Agricultural Insurance di New Delhi, India.

AGRICULTURAL INSURANCE DI NEGARA BERKEMBANG

Pengantar Redaksi:

Pada 28 – 31 Agustus 2000 bertempat di Taj Palace Hotel New Delhi, Federation of Afro Asian Insurers and Reinsurers (FAIR) bekerja sama dengan General Insurance Corporation of India (GIC) mengadakan Seminar Agricultural Insurance.  Menurut Ezzat Abdel Bary, Sekjen FAIR berkebangsaan Mesir, seminar ini diadakan mengingat sebagian besar rakyat di Asia dan Afrika hidup dari pertanian yang juga merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan negara.

Seminar yang diikuti oleh 48 peserta, 21 diantaranya dari luar India, dibuka oleh Menteri Keuangan India dan dihadiri pula oleh Menteri Pertanian India.  Para pembicara berasal dari India, Mauritius, Nigeria dan Iran, sementara aspek reasuransi dibawakan oleh pembicara dari PartnerRe, Swiss.

Disamping mengikuti penyajian makalah dari pembicara, para peserta juga berkesempatan mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan Industri pertanian, yaitu Indian Agricultural Research Institute (IARI) PUSA Campus New Delhi, Central Institute for Research on Goats (dekat Mathura) dan yang terakhir ke Multiple Farm (dekat Agra).  Sudah barang tentu  para peserta juga berkesempatan menikmati kemegahan Taj Mahal di Agra, monumen cinta Raja Shah Jehan yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. 

ReINDO turut berpartisipasi dalam seminar ini dengan mengutus seorang wakilnya, Adhi Saptoto, Associate Claim Analyst di Divisi Klaim dan Administrasi Reasuransi.  Berikut adalah catatannya selama mengikuti seminar yang merupakan bagian pertama dari tiga tulisan.

All can wait unless Agriculture

Kalimat bijak Jawaharlal Nehru dan tertulis diperpustakaan Indian Agricultural Research Institute (IARI), Campus Pusa, New Delhi.

Pertanian yang merupakan soko guru ekonomi dari sebagian besar negara memang harus mendapat perhatian seksama, sehingga ketergantungan berlebihan kepada negara lain tidak terjadi.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia, kebutuhan bahan pangan semakin meningkat.  Hampir seluruh bahan pangan berasal dari alam dan perlu dibudidayakan.  Masalahnya, adanya pergeseran iklim dan perpindahan penduduk dari desa ke kota telah menyebabkan semakin menurunnya daya dukung alam dan manusia terhadap sektor pertanian. Teknologi mungkin akan menutup kekurangan-kekurangan tersebut, namun untuk pengembangannya diperlukan modal yang tidak sedikit.

Perubahan kondisi alam akibat (salah satunya) pemanasan global membuat risiko dan ketidakpastian petani dalam berbudidaya menjadi lebih besar.  Kerugian-kerugian akibat alam seperti banjir, angin topan, kebakaran dan gempa bumi semakin sering terjadi dan bila hal ini menjadi kerugian katastrop, perekonomian negara akan terganggu. Untuk memberikan kepastian dalam berproduksi bagi para petani diperlukan dukungan dana yang cukup dari pemerintah berupa kredit yang diberikan melalui bank sebagai modal usaha.  Sedangkan industri asuransi berperan dalam menjaga agar dana tersebut tidak hilang begitu saja apabila terjadi kegagalan panen dan umumnya mendapat dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi premi.

Jenis asuransi untuk keperluan petani ini tergantung pada tanaman yang dibudidayakan,  hewan peliharaan dan properti-properti lain milik para petani. Dengan kata lain, polis yang dibuatpun sesuai dengan kebutuhan para petani (taylor made).

Baik negara maju maupun sedang berkembang yang telah menerapkan scheme crop insurance selalu melibatkan pemerintah sebagai pendukung dana. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa kerugian petani merupakan kerugian negara juga.  Sedangkan untuk menghadapi risiko-risiko catastrophe dibuat program penyebaran risiko melalui reasuransi baik dalam maupun luar negeri.

Negara-negara peserta seminar yang telah menerapkan crop insurance mengalami hasil yang tidak menggembirakan dengan loss ratio beberapa tahun diatas 100%, keculai Iran yang mendapat hasil yang cukup baik.  Namun yang pasti mereka tetap menangani crop insurance dan rural insurance ini dengan serius karena sangat berperan dalam menjaga kestabilan ekonomi.  Untuk itu dirancang program-program baru untuk menarik petani mengikuti program asuransi pertanian, dengan dukungan pemerintah dan reasuransi luar negeri.

Sebagian negara Asia dan Afrika telah menerapkan asuransi tersebut dengan aturan yang telah disesuaikan dengan kondisi dan wilayah masing-masing, tapi bagaimana dengan Indonesia?  Ironis memang, negara yang mengklaim sebagai Negara Agraris dengan jumlah penduduk di pedesaan lebih besar dari pada negara Asia-Afrika lainnya, kondisi iklim relatif lebih baik, tetapi jauh tertinggal dalam hal memberi proteksi bagi para petani.

(Adhi Saptoto/Associate Claim Analyst).

 

[ back to home ]