|
ANTARA
BERLIN DAN BERLAN
Adalah
Berlin, terkenal karena temboknya yang membelah kota menjadi dua,
Timur dan Barat. Perbedaan
ideologi membuat sanak saudara harus terpisah.
Bila ada yang nekad memanjat tembok demi memupus
kerinduan atau tergiur menikmati kebebasan Barat, sangat besar
kemungkinan bertemu “dor..dor..” dari penjaga perbatasan.
Tetapi itu dulu. Saat ini dinding yang tegak dengan gagahnya sejak 1961, telah
dirubuhkan menyusul dihembuskannya glasnost
dan perestroika oleh
Mikhail Gorbachev. Gorbachev
mungkin menyesal, karena kebijakan drastisnya itu justru membuat
Uni Sovyet tercabik-cabik.
Tapi tidak demikian dengan Jerman yang kembali bersatu
dan keluarga-keluarga yang terpisah selama tiga puluh tahun kini
berkumpul kembali.
Adalah
Berlan, terkenal karena tradisi berkelahinya yang telah mendarah
daging selama puluhan tahun.
Boleh dibilang kompleks yang terletak di kawasan Matraman,
Jakarta Timur ini memiliki musuh (sekaligus tetangga) hampir di
seluruh penjuru mata angin. Ada Tegalan di sebelah Timur, Bukit Duri di Selatan dan
Manggarai di Barat.
“Pertempuran”
yang melibatkan warga Berlan pecah beberapa kali dalam satu
tahun. Pertikaian
terbilang dahsyat terjadi pada akhir Maret dan awal April 2000
antara Berlan dan Tegalan dan Matraman Raya berubah jadi lautan
api. Dua puluhan bangunan terbakar akibat lemparan bom molotov
dan beberapa lainnya rusak parah terkena lemparan batu.
Termasuk diantaranya sebuah showroom
kendaraan bermotor, dua restoran dan satu kantor cabang bank
swasta.
Ada
yang berpendapat bahwa pertikaian antara Berlan dan para
tetangganya sulit untuk dipadamkan karena dendam sudah tertanam
demikian lama dan jangan lupa, Berlan adalah kompleks tentara.
Sudah lumrah dimana-mana, “anak kolong” selalu
menjadi biang onar. Entah
apa motifnya, mungkin sekedar mewarisi jiwa pejuang para orang
tua mereka (itupun yang ikut berjuang) atau manifestasi
berlebihan dan salah kaprah dari suatu kebanggaan.
Kelihatannya
pemerintah dan aparat keamanan mulai frustrasi. Wibawa mereka benar-benar terkikis habis dimata masyarakat.
Bayangkan, siang hari Kapolda Metro Jaya mengunjungi
lokasi kejadian, malamnya pecah lagi pertempuran yang justru
lebih besar. Demikian
frustrasinya, meski tidak yakin akan efektif menyelesaikan
masalah, Walikota Jakarta Timur membangun pagar setinggi dua
meter di sepanjang Jalan Matraman Raya.
Ironis memang, sepuluh tahun setelah Tembok Berlin
diruntuhkan dan puing-puingnya disimpan dirumah-rumah warga
sebagai kenang-kenangan, di Berlan justru pagar pemisah hendak
dibangun. Kalau
dipikir-pikir, bangsa Melayu ini memang selalu “telmi” (telat
mikir) dalam segala hal.
Dan
tidak jauh dari dugaan semula, pagar besi sama sekali bukan
halangan. Buktinya, awal Juni 2000 kembali anak-anak muda Berlan dan
Tegalan berperang.
Kenyataan
ini harus mendapat perhatian serius pelaku industri asuransi
terutama yang bermain di sektor properti.
Rangkaian kejadian diberbagai tempat akhir-akhir ini
semakin menunjukkan bahwa exposure
kerusuhan/huru-hara menjadi semakin “berat”.
Bentrokan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
Anda mungkin dapat menghindari kawasan Berlan atau
kawasan seperti Berlan, tetapi ingat remaja berseragam putih
abu-abu bahkan putih biru terlihat semakin brutal dan tidak
pilih-pilih tempat untuk “bertempur” dengan sekolah lain.
Mau
tidak mau kita harus mengasah pisau underwriting setajam mungkin
agar dapat mengidentifikasi kawasan-kawasan seperti Berlan
tersebut. Dengan kenyataan bahwa kondisi sosial masyarakat
secara umum sedang berada pada titik nadir dan belum dapat
diandalkannya aparat keamanan maka kawasan-kawasan merah ini
semakin hari semakin meluas.
Barangkali
kita harus semakin khusyu’ berdoa mohon bantuan Yang Maha
Kuasa karena ladang kita kini ibarat ladang ranjau. Pilihan ada
pada Anda. Mundur
atau maju terus asal ekstra hati-hati agar tidak salah injak.
(ReInfokus Team)
[ back to main
] |