Bisnis apapun selalu
membutuhkan berbagai macam analisa. Analisa posisi keuangan
perusahaan adalah salah satu diantaranya.
Banyak
pihak tertarik untuk mengamati bagian rugi/laba ,terutama
income before tax-nya, karena jumlah inilah yang selalu
menjadi indikasi keberhasilan perusahaan dalam beroperasi
selama kurun waktu tertentu. Laporan keuangan asuransi me
nempatkan income before tax (laba sebelum pajak)
sebagai selisih antara hasil underwriting bersih dan
berbagai pendapatan lainnya (diantaranya adalah investasi)
dengan sejumlah biaya operasional dan biaya lainnya.
Posisi
income before tax yang dianggap demikian penting
membuat banyak perusahaan berlomba-lomba untuk mencapai
jumlah maksimum pada bagian tersebut. Sebagian besar pelaku
bisnis asuransi berusaha untuk mengumpulkan pendapatan
underwriting yang besar (tanpa mengkhawatirkan beban
underwriting) dan menempatkan sejumlah dana tersebut
kepada kegiatan investasi guna memperbesar pendapatan
lainnya yang mudah-mudahan bisa menutupi kerugian
underwriting. Cara semacam ini umumnya dilakukan oleh
perusahaan reasuransi.
Depkeu
mencatat bahwa perusahaan reasuransi di Indonesia yang
memiliki hasil underwriting negatif mencapai jumlah
75% pada tahun 1994 dan 50% pada tahun 1997 namun sebagian
besar berhasil mencapai income before tax yang
positif (dengan jumlah pendapatan lain yang sangat besar).
Kondisi seperti ini seharusnya dapat dihindari apabila
prudent underwriting diterapkan dengan optimal.
Adalah
tindakan yang bijaksana apabila sebagai seorang analis kita
selalu menilai laporan rugi/laba perusahaan asuransi melalui
dua sisi, yakni hasil underwriting dan income
before tax. Bagaimanapun juga, sangat riskan bagi suatu
perusahaan asuransi untuk lebih bergantung kepada pendapatan
lainnya (seperti hasil investasi yang banyak dipengaruhi
oleh berbagai macam faktor) dibandingkan dengan hasil bersih
underwriting.
Kita
harus jujur mengakui bahwa perusahaan asuransi yang berhasil
memainkan keduanya (hasil underwriting dan income
before tax) dengan baik adalah perusahaan yang dapat
diandalkan dalam situasi apa pun. Disaat prospek
underwriting menurun, perusahaan tersebut dapat
mengandalkan kemampuannya disisi lain dan demikian pula
sebaliknya. Ingatlah ungkapan "Don’t put your eggs in
only one basket" .