|
Trend Strategi Bisnis Asuransi Dunia
Dulu perusahaan asuransi/reasuransi
mengutamakan persaingan dalam ukuran perusahaan dan ukuran permodalan.
Namun dalam 10 tahun terakhir persaingan itu mulai melebar pada tataran
pengetahuan, inovasi produk dan strategi.
Penciptaan nilai-nilai baru dalam bisnis
asuransi mulai terkuak dengan timbulnya tantangan dari konsumen asuransi
dan perkembangan pasar asuransi itu sendiri, antara lain:
-
Pengetahuan tertanggung dalam manajemen risiko yang
meningkat pesat. Mereka mulai mengadakan perhitungan atas premi yang mereka
bayar dengan frekuensi dan intensitas (severity) risiko-risiko yang
mereka hadapi. Kesadaran ini mendorong terciptanya kontrak-kontrak polis
asuransi dengan deductible besar dan premi rendah serta merebaknya
captive
insurance.
-
Semakin jenuhnya pasar asuransi dunia terutama di Amerika
dan Eropa, seiring dengan stagnasi perkembangan pasar yang berimplikasi
pada rendahnya tingkat harga premi. Tingkat premi asuransi kerugian di
Amerika sejak tahun 1988 sebenarnya tidak mengalami kenaikan jika diperhitungkan
dengan inflasi pada periode yang sama. Sementara Eropa mengalami kejenuhan
pasar akibat tingginya kepemilikan polis asuransi jiwa per kepala dan terlalu
banyaknya perusahaan asuransi di pasar (sekitar 5000 perusahaan untuk 18
negara Eropa barat).
-
Lembaga-lembaga keuangan seperti Dana Pensiun, Asuransi,
Reasuransi, Investment Bank, dan Asset Management mulai menyadari
bahwa ternyata mereka bersaing di ladang yang hampir sama. Karakteristik
bisnis dari lembaga-lembaga tersebut telah menipis, sehingga mereka tampil
sebagai pesaing-pesaing baru dalam bisnis asuransi. Kenyataan ini dimanfaatkan
oleh tertanggung untuk melakukan hedging dan transfer atas risiko
yang dimilikinya dengan bentuk-bentuk yang lebih inovatif.
Ketiga hal diatas memaksa perusahaan-perusahaan
yang bergerak di dalam bisnis asu-ransi "memeras otak" untuk menemukan
strategi-strategi baru agar tetap "survive".
Strategi-strategi itu diantaranya:
-
Merjer dan akuisisi.
Sesungguhnya ini merupakan
cerita lama dalam bisnis manapun. Tetapi bagi dunia asuransi, ia menjadi
fenomena paling nyata diakhir milenium kedua. General Re (reasuradur nomor
3 di dunia dan terbesar di Amerika) telah mengakuisisi Cologne Re (reasuradur
Jerman) yang merupakan salah satu akuisisi terbesar abad ini. Lalu merjernya
broker asuransi Marsh McLennan dan Sedgwick baru-baru ini memperlihatkan
bahwa broker asuransi juga bersiap-siap menghadapi tantangan bisnis ke
depan. Sementara Swiss Re lebih hati-hati dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan
reasuransi di Eropa dan Amerika yang memiliki modal tidak terlalu besar
tetapi dalam frekuensi yang tinggi (Swiss Re mengakusisi perusahaan reasuransi
dunia dua kali dalam setahun). Fenomena Merjer dan akuisisi ini mengedepan
karena jenuhnya pasar dan semakin ketatnya persaingan. Selain itu hal ini
dilakukan untuk menstabilkan loss portolio perusahaan serta bermanfaat
dalam meningkatkan pangsa pasar secara instan.
-
Meningkatkan core competence dengan divestasi bisnis. Swiss Re menjual
perusahaan asuransi kerugiannya kepada Allianz dan mengakuisisi perusahaan
reasuransi jiwa di Inggris.
Meningkatkan efisiensi pemasaran. Tujuan strategi ini adalah untuk
lebih mendekatkan pelayanan dan hubungan ke dalam pasar. Misalnya dengan
penggunaan internet dan call center (yang terakhir ini mulai disadari
oleh beberapa perusahaan asuransi di Indonesia). Penelitian Booz Allen
& Hamilton di Inggris membuktikan bahwa internet merupakan wahana
pemasaran asuransi paling murah. Beberapa reasuradur besar dunia telah
pula memanfaatkan media ini sebagai salah satu cara penawaran fakultatif
bagi para asuradur dengan mengisi blanko facultatif offering di
homepage
mereka. Di Indonesia hal ini masih mengalami kesulitan dalam pelaksanannya
mengingat belum adanya ketentuan hukum mengenai pengunaan internet sebagai
salah satu cara distribusi.
-
Ekspansi ke dalam Capital Market. Pertengahan
‘90an ditandai oleh munculnya produk-produk derivasi dari bisnis asuransi
yang dijual ke pasar modal seperti catastrophic bonds di tahun 1994
dan diikuti dengan berbagai macam obligasi dan derivasi lainnya untuk meraih
modal tambahan dari investor. Dengan produk-produk derivasi ini, perusahaan
asuransi / reasuransi menjadi media perantara pertang-gungan saja karena
yang menanggung risiko tersebut sebenarnya adalah investor. Strategi investasi
ini timbul dari ketatnya persaingan dan tingginya combined ratio
(loss ratio ditambah dengan rasio biaya manajemen) di belahan dunia
manapun serta pasar yang mulai melemah. Akibatnya, keuntungan dari pendapatan
underwriting tidak lagi diharapkan sebagai ujung tombak bisnis asuransi
seperti yang terjadi 10 tahun lalu. Sebenarnya usaha asuransi sudah mengalami
perubahan fokus bisnis akibat trend seperti itu. Dari bisnis yang hanya
mempertanggungkan risiko dan mendapatkan keuntungan dari sisi underwritingnya
ke bisnis yang bergerak untuk mengakumulasi dana dari masyarakat lalu mencari
keuntungan lewat sisi investasi atas premi yang terkumpul. Itulah penyebab
asuradur/reasuradur kelas dunia saat ini mulai mengakuisisi investment
banks.
Perkembangan dunia asuransi di luar yang demikian pesat dapat kiranya
memacu kita untuk mulai merubah mindset bisnis di Indonesia agar berlari
lebih cepat mengejar ketinggalan dengan berbagai penekanan dalam pengetahuan
bisnis dan strategi. Terlebih bila kita ingin bertahan dalam kancah dunia
diera perdagangan bebas. Think Globally, Act Locally.
(Gomos/ McKinsey Quarterly Journal;Viewpoints;Sigma).
[
back to home ] |