MENGENAL RISIKO PENGANGKUTAN
PERSENJATAAN / PERALATAN MILITER

Persenjataan dan peralatan militer merupakan benda yang memiliki karakteristik, sifat dan fungsi tersendiri. Hal ini karena benda tersebut merupakan produk yang dihasilkan dengan mengkombinasikan bahan baku, proses dan teknologi serta pengujian mutakhir.

Hampir semua produk dan teknologi senjata/peralatan militer dipergunakan oleh kalangan angkatan bersenjata. Hanya sebagian kecil saja teknologinya dipakai oleh kalangan sipil seperti dalam bidang kesehatan, penginderaan jauh, telekomunikasi dan transportasi.

Artikel ini akan membahas secara singkat risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam pengangkutan produk-produk militer tersebut.

PESAWAT TEMPUR
(versi buru sergap, latih maupun helicopter)
Peralatan ini biasanya langsung diterbangkan oleh para pilot dari pabrik asalnya menuju negara pemesan. Namun ada juga yang dikirim dalam bentuk bagian-bagian pesawat berikut mesinnya yang siap dirakit saat tiba di hanggar pangkalan udara. Alat transportasi yang biasa dipakai adalah pesawat angkut militer berukuran raksasa seperti C-5 Galaxy atau Antonov Mriya buatan Rusia yang memang dirancang khusus untuk alat angkut pesawat tempur.

Untuk mesin-mesinnya selain diangkut dengan C-5 Galaxy (sebagaimana yang pernah dilakukan TNI-AU sewaktu pada pengiriman F-5E/F Tiger II) bisa juga menggunakan kapal laut.

Risiko yang bakal terjadi adalah:

- Kesalahan packaging bagian-bagian pesawat
- Kesalahan penempatan package di bagasi
- Kecelakaan pesawat atau kapal pengangkut

Jenis penutupan yang dapat dilakukan adalah:

- Partial Loss
- Total Loss Following the Vessel
- Port to Port, WH to WH atau kombinasi keduanya


KENDARAAN TEMPUR LAPIS BAJA
(Tank, Panser, Truck Angkut Personel, Meriam Howitzer)

Peralatan ini biasa diangkut dalam bentuk utuh dan seringkali menggunakan kapal laut jenis LST (Land Ship Tank) untuk jarak jauh atau LCT Versi militer (untuk perairan regional) dan selanjutnya dijalankan sendiri menuju depot militer. Namun untuk Tank umumnya diangkut dengan trailer atau kereta api sampai ke tujuan.

Mengingat konstruksi peralatan yang terbuat dari baja kualitas tinggi yang kokoh, maka kemungkinan terjadinya partial loss akibat kerusakan-kerusakan kecil sangat minim. Risiko yang mungkin terjadi adalah Total Loss Following the Vessel.

PELURU KENDALI
Peluru kendali (Missile) merupakan senjata penghancur pesawat tempur, kapal, tank dan barak-barak militer. Peluru ini digerakkan dengan tenaga roket yang berbahan bakar padat atau cair. Ada pula yang digerakkan dengan menggunakan mesin jet kecil.

Secara garis besar bagian-bagiannya terdiri dari :

- peralatan sensor optik/infra merah/elektronik
- hulu ledak berikut pengaktifnya (fuze/detenator)
- modul bahan bakar
- transmisi
- roket/mesin pendorong
- badan peluru (fuselage) berupa selongsong dan sirip-sirip
  pengatur

Peluru kendali dikirim ke negara pemesan dalam bentuk paket lengkap dengan alat peluncurnya (bisa berupa portable-launcher, launcher-rig atau kendaraan peluncur berlapis baja dengan roda/rantai) dan unit catu-daya (battery sistem unit) untuk supplai tenaga listrik. Semua peralatan ini dapat diangkut dalam bagian-bagian terpisah yang siap dirakit maupun dalam bentuk utuh.

Mungkin yang harus diperhatikan jika diangkut dalam keadaan terpisah adalah packaging dan storage dari masing-masing bagian, terutama untuk modul peralatan elektronik dan transmisi karena merupakan peralatan sensitif.

Dalam bentuk utuh, kemungkinan partial loss kecil sekali. Bahaya ledakan dari hulu ledak dan bahan bakar bisa diabaikan, karena peluru kendali hanya bisa meledak setelah mesin pendorong dan fuze/detenator diaktifkan. Adanya benturan, hentakan dan suhu tinggi tidak membuat peluru kendali meledak atau rusak selama pengangkutan.

Dalam bentuk utuh, cover yang tepat adalah Total Loss Following The Vessel baik untuk Port to Port, WH to WH ataupun kombinasi keduanya. (RSS/Berbagai sumber)


 

[ back to main ]