Seringkali kita mendengar
adanya agen asu-ransi jiwa yang melanggar kode etik didalam
berbisnis, namun bagaimana dengan konsumen asuransi jiwa sendiri?
Bukan hal baru lagi bahwa seseorang yang sebenarnya telah
mengetahui dirinya mengidap penyakit kronis (misalnya AIDS)
berusaha membeli polis sebanyak-banyaknya (stacking the policy)
dengan memberikan data-data palsu pada saat pengisian aplikasi.
Tujuannya agar tetap mendapatkan ganti rugi asuransi. Memang
terkadang itikad buruk dari klien tersebut dapat disebabkan oleh
do-rongan agen asuransinya.
Umumnya klien jenis ini berharap paling tidak
salah satu dari polis tersebut dapat melewati periode
“contestability”. Di Amerika Serikat, setelah melewati periode
contestability selama 2 tahun, akan sangat sulit untuk menolak
klaim, meskipun diketahui klien dan/atau agen asuransi tidak
jujur dalam memberikan infomasi pada aplikasi.
Di Kanada, hal itu bukan merupakan masalah
yang besar. Hanya ada sedikit kesempatan bagi klien dan agen
untuk mengharapkan keuntungan dari “intentional
misrepresentation” (membe-rikan keterangan palsu secara sengaja).
Industri asuransi Amerika Serikat
mengharapkan agar dalam waktu yang tidak lama lagi akan ada
tanggapan luas dari dunia untuk melakukan perubahan pada
peraturan tersebut, sebagaimana yang telah diterapkan di Kanada.