EL NINO, KRISMON  ATAWA KESENGAJAAN?

 

El Nino menyebabkan klaim kebakaran meningkat? Bagaimana ini bisa terjadi? Kemarau panjang yang terjadi saat ini tidak lepas dari sepak terjang ‘El Nino’. Dampaknya bukan hanya kekeringan yang terjadi di semua sudut negeri juga termasuk kebakaran. Dimana hutan jadi salah satu objek. Selain itu perumahan juga tidak sedikit. Dalam konteks asuransi kebakaran, hanya rumah, gedung, gudang, dan materi yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, menjadi sasaran.

Entah sudah berapa Rupiah yang harus dikucurkan asuransi untuk membayar klaim. Selain itu juga tidak diketahui pasti berapa banyak kasus kebakaran di Indonesia dan berapa diantaranya yang memang dalam pertanggungan asuransi. Untuk DKI Jaya saja tahun terakhir ini mencatat rekor 1186 kebakaran (sumber Dinas Kenbakaran DKI Jaya). Ini baru seputar DKI, belum termasuk di daerah lain. Rekor sebelumnya terjadi pada tahun 1982 dengan 1082 kebakaran, sedang untuk tahun 1996, hanya terjadi sekitar 700 kebakaran.

Peristiwa kebakaran yang terjadi tahun ini umumnya menimpa daerah-daerah pemukiman padat. Namun ada pula yang menghanguskan gedung-gedung kantor pemerintah yang penting. Sebelumnya kebakaran menimpa gedung sayap kiri kantor Bappenas dan menghancurkan ruang kerja Kepala Biro Pemantauan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. Kemudian jago merah juga melalap gedung Bank BNI Cabang Jakarta Kota dan pada akhir Nopember lalu giliran Gedung A Bank Indonesia.

Ini pertanda buruk bagi perusahaan asuransi kerugian. Bukan mustahil, setelah kawasan perkantoran ini, bisa jadi giliran pabrik menjadi sasaran kobaran api. Benarkah sinyalemen bahwa kebakaran bukan sekedar kecelakaan ada unsur kesengajaan?

Jangan menjatuhkan vonis sebelum ada pembuktian. Begitu kata praktisi hukum, tetapi apapun sinyalemen tersebut, patut kita cermati. Apalagi, ada kecenderungan klaim meningkat di saat situasi moneter tidak menentu. Tanpa mengamini atau memvonis pernyataan di atas, hal ini patut dikaji. Yang pasti data menunjukkan bahwa tingkat kebakaran memang terus meningkat. Hal ini harus membuat perusahaan asuransi hati-hati.

Melihat data-data di atas boleh jadi, benar ada korelasi kuat antara kondisi moneter dengan frekuensi kebakaran, yang tentu berbanding lurus dengan jumlah klaim yang harus dipikul perusahaan asuransi. Jika pada data tersebut yang menjadi objek kebakaran perkantoran, bukan mustahil dalam waktu dekat bakal banyak pabrik terbakar (dibakar?).

Apapun alasannya, ini tentu merupakan mimpi buruk bagi perusahaan asuransi, Jika krisis moneter baru sekedar mengurangi premi, bisa jadi dalam waktu dekat asuransi kerugian akan ketiban beban beruntun. Maka bersiaplah dan berhati-hatilah dalam mencermati kebakaran itu !

(Iaw-mt2/Harian Terbit)

[ back to home ]