APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
UNTUK PETA BENCANA ALAM DI INDONESIA
1.
Ringkasan
Aplikasi ini bertujuan untuk membantu perusahaan asuransi dalam mengestimasi
premi asuransi khusus untuk gempa bumi dan tsunami. Aplikasi SIG ini adalah kerangka SIG
untuk bencana alam karena dirancang untuk bisa tumbuh sebagai aplikasi pemetaan bencana
alam lainnya seperti gunung meletus, banjir dsb. Pada tahap ini aplikasi SIG yang berhasil
dikembangkan adalah aplikasi untuk peta bahaya gempa bumi yang dilihat dari dampaknya
terhadap bangunan. Untuk memudahkan pemakai, beberapa peta hasil aplikasi ini disusun juga
dalam format HTML.
2.
Pendahuluan
Letak geografi Indonesia yang
membujur dari 94o-141o BT dan 6o LU-11o LS
merupakan negara kepulauan dengan tingkat kegempaan tinggi karena terletak pada pertemuan
tiga lempeng tektonik yang bergerak satu sama lainnya. Lokasi aktif gempa secara sepintas
sudah dapat dipastikan berada di perbatasan lempeng tektonik. Namun efeknya bisa dirasakan
pada jarak tertentu bergantung pada atenuasi (peluruhan energi) dan geologi setempat.
Kondisi lingkungan alam ini membuat Indonesia sering dilanda bencana gempa bumi dan
Tsunami yang makin hari makin meningkat kuantitasnya karena perkembangan penduduk,
perkotaan dan umur bangunan.
Beberapa kali Indonesia dan Jakarta
khususnya dilanda gempa bumi yang menyebabkan klaim kerusakan akibat gempa bumi kepada
perusahaan asuransi meningkat. Sedangkan premi khusus untuk gempa bumi tidak ditentukan
secara spesifik dan bahkan diberikan secara cuma-cuma. Hal ini melahirkan ketidak
seimbangan bisnis asuransi, sehingga perlu meninjau kembali kebijakan premi asuransi gempa
bumi. Idealnya, dengan menggunakan peta
percepatan tanah maksimum, para insinyur sipil harus membangun bangunan tahan gempa sesuai
dengan seismic code, sehingga resiko gempa pada semua tempat bisa sama. Hal ini berarti
premi juga akan sama, bahkan jika bangunan tahan gempa maka premi gratis bisa diterapkan.
Namun kenyataannya tidak semua insinyur sipil menggunakan kaidah seismic code tersebut,
sehingga peta percepatan tanah sangat diperlukan oleh perusahaan asuransi untuk
disesuaikannya dengan seismic code bangunan yang sudah diterapkan.
Yang menjadi pertanyaan adalah apa
yang bisa menjadi referensi premi asuransi gempa bumi tersebut. Ada dua hal yang membuat
premi berbeda; yaitu tingkat aktifitas gempa bumi (percepatan tanah) dan kualitas objek,
selain itu pengaruh pasar. Premi dari satu tempat ke tempat lain berbeda jika resiko gempa
juga beda. Selain dari itu tentu kualitas dari objek yang diasuransikan, seperti gedung,
jembatan dsb. Jika gedungnya sudah pernah rusak, maka sudah pasti preminya tinggi,
sehingga kedua parameter tersebut menjadi bobot index asuransi untuk menentukan premi
tahunan suatu objek asuransi.
Hasil monitoring gempa bumi di
Indonesia yang dilakukan oleh BMG maupun oleh pemerintahan Belanda (sebelum 1942)
menunjukkan bahwa aktifitas gempa bumi tergolong sangat aktif. Peralatan monitoring gempa
bumi yang dioperasikan BMG semakin baik, ditambah pula dengan perhatian peneliti dari luar
negri sangat besar terhadap keunikan dinamika tektonik di Indonesia, sehingga informasi
ilmiah tentang tektonik Indonesia menjadi bahan yang sangat menguntungkan bagi perencanaan
bangunan dan industri asuransi. Namun informasi tersebut masih terpecah-pecah menurut
keperluan disiplin tertentu, sedangkan untuk keperluan industri asuransi belum sepenuhnya
diintegrasikan sebagai referensi premi.
Referensi untuk perhitungan premi
asuransi relatif mudah jika menggunakan index premi untuk suatu nilai objek, namun untuk
menemukan index tersebut diperlukan banyak sekali parameter bencana yang akan memberi
bobot nilai index tersebut. Paramater tersebut pada prinsipnya adalah resiko yang dihitung
berdasarkan probabilitas gempa bumi dan probabilitas kerusakan.
Tujuan dari kajian ini adalah untuk
mengumpulkan beberapa parameter gempa bumi untuk dipetakan sebagai gambaran kualitatif
untuk perkiraan resiko gempa bumi. Parameter tersebut meliputi percepatan tanah, tsunami,
seismisitas, distribusi gempa bumi dan sejarah gempa bumi di Indonesia. Beberapa paremeter
tersebut memberikan gambaran langsung maupun tidak langsung terhadap dampak dari setiap
peristiwa gempabumi di suatu lokasi.
3.
Maksud dan tujuan
3.1. Tujuan Umum
Secara umum kita harus berasumsi
bahwa premi objek asuransi bergantung pada fenomena alam dimana objek tersebut berlokasi
dan objek asuransi tidak tahan terhadap peristiwa alam, sehingga premi tidak perlu nol.
Karena itu pemetaan bencana alam menjadi sasaran utama penelitian ini agar dapat menjadi
referensi index premi asuransi. Proses pemetaan bencana alam ini dilakukan secara
bertahap, karena bencana alam disebabkan oleh peristiwa; gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, tanah longsor dsb. Tiap peristiwa alam tersebut dapat dipetakan
sendiri-sendiri, namun bisa juga dijadikan satu peta bencana alam melalui aplikasi SIG
(Sistem Informasi Geografi).
3.2. Tujuan Khusus.
Tahap awal dari penelitian ini
adalah membuat aplikasi SIG untuk peristiwa gempa bumi dan Tsunami. Peristiwa gempa bumi
dipetakan dalam bentuk peta perpercepatan tanah maksimum, distribusi gempa bumi,
distribusi energi, tsunami dan peta intensitas. Beberapa peta tersebut digabung menjadi
satu peta untuk melihat total resiko di suatu lokasi.
4.
Metodologi
Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu perangkat yang berbasis komputer untuk pemetaan dan analisa fenomena alam. Analisa ini memadukan antara fenomena alam di lokasi geografis yang sangat tergantung pada pemilihan jenis peta dan jenis fenomena alam, misalnya gempa bumi, tsunami, banjir, letusan gunung berapi dsb. Dengan teknologi SIG, kita padukan beberapa jenis peta dasar (misalnya peta garis pantai, peta topografi, peta tata guna lahan) dengan beberapa peristiwa alam yang terkait dengan bencana alam menjadi satu peta yang disebut sebagai peta bencana alam.
Pada penelitian ini kita pakai peta garis pantai dengan batas propinsi di Indonesia untuk dipadukan dengan dampak gempa bumi berupa peta percepatan tanah maksimum, peta tsunami, dan peta seismisitas. Tiga jenis peta dampak gempa ini dipadukan untuk menjadi dua jenis peta resiko gempa bumi; 1). Perpaduan antara peta percepatan tanah dan tsunami dengan peta garis pantai, 2). Perpaduan peta seismisitas dan tsunami dengan peta garis pantai. Tinjauan resiko gempa bumi disetiap propinsi dilengkapi dengan sejarah kerusakan dari tahun 0 sampai tahun 2000 kemudian dilengkapi juga dengan perhitungan probabilitas priode ulang kerusakan disetiap propinsi.
5.
Jenis peta
5.1. Peta seismisitas
Peta seismisitas adalah peta yang
menunjukkan aktifitas gempa bumi. Aktifitas gempa bumi bisa ditinjau dari bermacam cara,
diantaranya adalah dengan peta distribusi gempa bumi. Setiap gempa bumi melepaskan energi
gelombang seismik, sehingga kumpulan gempa bumi pada perioda tertentu pada suatu area juga
suatu cara untuk menggambarkan konsentrasi aktifitas gempa bumi.
Metode pemetaan
Pemetaan ini dilakukan dengan data gempa bumi yang berasal dari beberapa katalog seperti
katalog BMG, USGS (United State Geological Survey) dan ISC (International Seismological
Center) gempa di Indonesia pada periode 1897-2000. Data gempa bumi dipilih dengan
magnitudo >= 5 skala Richter dan diplot setiap periode 10 tahun.
Daerah aktif gempabumi di Indonesia
di sepanjang pertemuan lempeng tektonik Eurasia dengan India-Australian yang membentuk
busur dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara sampai Maluku, tumbukan lempeng
oseanik Pasifik dengan Lempeng kontinen Australia di bagian utara Irian dan beberapa sesar
lokal seperti sesar Sumatera, sesar Palu-Koro di Sulawesi dan beberapa sesar lokal lainya.
Distribusi gempa bumi ini menggambarkan perbandingan tingkat aktifitas gempa dari satu lokasi terhadap lainnya tiap kurun waktu 10 tahun. Tinjauan lain adalah melihat konsentrasi energi gempa secara kumulatif ditiap grid 0,5o x 0,5 o dalam periode 1897-2000. Dengan melalui penyederhanaan yang cukup radikal kita peroleh hubungan momen energi (Mo) dengan magnitude (mB).
Besaran energi dinyatakan dalam
logaritma momen energi yang berkisar antara 1020 erg sampai 1030 erg. Persamaan diatas menunjukkan bahwa perubahan satu
skala magnitudo sebanding dengan perubahan momen energi sebesar 102,383 atau sekitar 242 kali magnitudo
dibawahnya. Untuk log Mo=26.8 atau Mo= 1026.8 sebanding dengan mB=7
setara dengan 242 gempa bumi dengan mB = 6 atau setara dengan sekitar 58884
gempa dengan mB = 5 skala Richter.
Hasil peta
1.
Peta Distribusi gempa bumi tiap periode 10
tahun, dari tahun 1900-2000
2.
Peta Distribusi Energi gempa bumi
5.2. Sejarah Gempa merusak, (Peta Intensitas dan probabilitas komulatif Gempa Bumi)
Gempa
merusak dan menelan korban merupakan suatu kejadian yang sering dilaporkan sejak zaman
sebelum ditemukan alat pencatat gempa bumi (Seismograp). Laporan gempa merusak ini bisa
dipakai sebagai data/sample perhitungan statistik untuk mendapatkan gambaran umum tentang
kerusakan dan korban dimasa mendatang. Cara ini sebetulnya belum bisa menyimpulkan resiko
gempa bumi secara ilmiah, namun cukup mendapatkan gambaran umum dari sejarah kerusakan
yang pernah dialami suatu daerah. Cara yang lebih baik adalah dengan pengkajian
karakteristik tiap sumber gempa dan menghitung probabilitasnya untuk pertimbangan resiko.
Pengkajian sumber gempa merupakan pengkajian sesar-sesar aktif dan
Untuk mendapatkan nilai-nilai
Probabilita Kumulatif di beberapa daerah di Indonesia, dengan mempergunakan Metoda Analisa
DistribusiWeibull, dengan memakai data sebanyak 280 gempa merusak dari tahun 1821 - 2000,
yang merupakan gempa bumi utama (mainshock) pada magnitudo M > 5.0 skala richter.
Bahwa
Distribusi Weibull untuk pertama kali dipakai menganalisa periode ulang dan probabilita
gempa bumi oleh Hagiwara (1974). Distribusi Weibull yang dipergunakan, ditulis dengan
persamaan sebagai berikut :
(1)
dimana : K dan m
adalah konstanta (tetapan),
K > 0 dan m > -1.
Dt adalah suatu
keadaan dimana tidak terjadi gempa bumi sebelum waktu (t)dengan interval waktunya adalah
dari (t) hingga ( t + Dt) ).
Pobabilita
Kumulatif kejadian gempa bumi selama selang waktu nol dan t dituliskan sebagai berikut :
F(t)
= 1 - R(t)
(2)
dengan R(t)
merupakan Reliabilita yang dirumuskan sebagai berikut :

(3)
Perhitungan
frekuensi dari gempa bumi (ni) untuk setiap selang waktu Dt dipilih secara
tepat. Kemungkinan terjadinya periode ulang gempa bumi yang terletak dalam selang waktu
antara i.
Dt dan
(i+1).
Dt;
(untuk i = 0,1,2,3,...,n)diperoleh bentuk(ni/N), dimana N adalah jumlah total
gempa bumi.
Probabilita
Kumulatif dapat diproleh dengan rumusan :
(4)
Sedangkan
nilai reliabilita R(t) dapat diperoleh dengan memasukkan persamaan (4) ke persamaan (2).
Jadi
dengan demikian dapat diperoleh nilai Probabilita Kumulatif
dibeberapa
daerah di Indonesia, adalah sebagai berikut :
Daerah |
Waktu ( Tahun ) |
Probabilita ( % ) |
Aceh |
26 |
80 |
Sumatera Utara |
28 |
90 |
Sumatera Barat |
82 |
80 |
Sumatera
Selatan |
42 |
90 |
Bengkulu |
60 |
80 |
Jawa Barat |
19 |
96 |
Jakarta |
28 |
92 |
Jawa Tengah |
23 |
96 |
Jawa Timur |
24 |
95 |
Bali |
34 |
90 |
Nusa Tenggara
Barat |
20 |
90 |
Nusa Tenggara
Timur |
15 |
90 |
Timor Timur |
6 |
90 |
Kaloimantan
Timur |
16 |
90 |
Sulawesi Utara |
42 |
90 |
Sukawesi Tengah |
9 |
90 |
Sulawesi
Selatan |
15 |
90 |
Maluku |
24 |
97 |
Irian Jaya |
16 |
90 |
|
|
|
|
|
|
Hasil peta
5.3. Peta Percepatan tanah maksimum
Perpindahan materi biasa disebut
displacement. Jika kita lihat waktu yang diperlukan untuk perpindahan tersebut, maka kita
bisa tahu kecepatan materi tersebut. Sedangkan percepatan adalah parameter yang menyatakan
perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Pada bangunan
yang berdiri di atas tanah memerlukan kestabilan tanah tersebut agar bangunan tetap
stabil. Percepatan gelombang gempa yang sampai di permukaan bumi disebut juga percepatan
tanah, merupakan gangguan yang perlu dikaji untuk setiap gempa bumi, kemudian dipilih
percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) untuk dipetakan agar bisa
memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi.
Efek primer gempabumi adalah
kerusakan struktur bangunan baik yang berupa gedung perumahan rakyat, gedung bertingkat,
fasilitas umum, monumen, jembatan dan infrastruktur struktur lainnya, yang diakibatkan oleh getaran yang ditimbulkannya.
Secara garis besar, tingkat kerusakan yang mungkin terjadi tergantung dari kekuatan dan
kualitas bangunan, kondisi geologi dan geotektonik lokasi bangunan, dan percepatan tanah
di lokasi bangunan akibat dari getaran suatu gempa bumi. Faktor yang merupakan sumber
kerusakan dinyatakan dalam parameter percepatan tanah. Sehingga data PGA akibat getaran
gempabumi pada suatu lokasi menjadi penting untuk menggambarkan tingkat resiko gempabumi
di suatu lokasi tertentu. Semakin besar nilai PGA yang pernah terjadi disuatu tempat,
semakin besar resiko gempabumi yang mungkin terjadi.
Pengukuran percepatan tanah
dilakukan dengan Accelerograph yang dipasang dilokasi penelitian. Jaringan accelerograph
milik BMG tidak lagi beroperasi karena mengalami kerusakan sejak tahun 1980an, sehingga
pengukuran percepatan tanah dilakukan dengan cara empiris, yaitu dengan pendekatan dari
beberapa rumus yang diturunkan dari magnitude gempa atau/dan data intensitas. Perumusan
ini tidak selalu benar, bahkan dari satu metoda ke metoda lainnya tidak selalu sama. Namun
cukup memberikan gambaran umum tentang PGA.
Gempa besar bisa terjadi
berulang-ulang di suatu tempat. Kita kenal sebagai perioda ulang gempa bumi. Hal ini
didukung oleh teori elastic rebound yang mempunyai fasa pengumpulan energi dalam jangka
waktu tertentu dan kemudian masa pelepasan energi pada saat gempa besar. Perioda ulang gempa besar bisa 10 tahun, 50 tahun,
100 tahun atau 500 tahun. Sehingga tingkat resiko bangunan terhadap gempabumi bisa terkait
dengan periode ulang gempabumi. Kita ambil contoh jika bangunan dirancang untuk berumur
pakai 50 tahun dan perioda ulang gempa ditempat tersebut 100 tahun, maka percepatan
maksimum di tempat tersebut tentu akan kecil.
5.3.1. Metode Pemetaan
Langkah-langkah membuat peta
percepatan tanah maksimum (PGA) adalah sebagai berikut :
v
Menyusun kembali data-data gempabumi yang
terjadi dalam wilayah Indonesia dan sekitarnya.
v
Membagi Indonesia menjadi grid dengan ukuran
0,5 derajad x 0,5 derajad.
v
Menghitung percepatan tanah untuk tiap-tiap
grid untuk semua data gempabumi dengan beberapa formula dan memilih satu percepatan yang
paling besar pada tiap-tiap grid.
v
Menghitung percepatan tanah maksimum untuk
tiap-tiap grid untuk berbagai periode ulang dengan menggunakan metode McGuire.
v
Menentukan tingkat resiko berdasarkan nilai
percepatan maksimum.
v
Membuat kontur peta resiko untuk wilayah
Indonesia.
5.3.2. Perhitungan Percepatan Tanah Maksimum (PGA)
Beberapa formula empiris PGA antara
lain metode Donavan, Esteva, Murphy - OBrein, Gutenberg Richter, Kanai,
Kawasumi dan lain-lain. Formula-formula empiris tersebut ditentukan berdasarkan suatu
kasus gempabumi pada suatu tempat tertentu, dengan memperhitungkan karakteristik sumber
gempabuminya, kondisi geologi dan geotekniknya. Dari beberapa formula tersebut kita pilih
formula Murphy OBrein, Gutenberg-Richter dan Kanai untuk diterapkan pada
penelitian ini. Formula Murphy-OBrein memberikan hasil yang mirip dengan formula
Gutenberg-Richter yang dikombinasikan dengan fungsi attenuasi gempabumi yang ditentukan
berdasarkan gempa Flores, 12 Desember 1991. Formula Kanai perhitungan percepatan tanahnya
memperhitungkan site effect yang direpresentasikan oleh periode dominan tanah di site
tersebut. Perhitungan dengan formula-formula ini mengunakan data gempabumi selama periode
100 tahun.
Formula Murphy OBrein :
PGA=10(0,14
I + 0,24 M) 0,68(log d + 0,7 )
dimana :
PGA = Peak Ground
Acceleration
I = Intensitas standard MMI
M = Magnitude gempabumi
d = jarak antara lokasi
dengan sumber gempabumi
Formula Gutenberg-Richter :
log a = I/3 0.5 dan Io = 1,5 ( M-0,5)
dimana :
a = percepatan (gal),
I = Intensitas (MMI) dan
Io = Intensitas pada
hyposenter.
Fungsi attenuasi intensitas gempa
Flores 12 Des 1992.
I = Io exp. (-0,0021 X),
dimana :
I = intensitas pada jarak X
km dari Io
Formula Kanai :
![]()
dimana :
M = Magnitudo gelombang permukaan
D = Jarak episenter
5.3.3. Periode Ulang
Fenomena gempabumi dapat digambarkan
sebagai pelepasan energi oleh batuan bumi yang mengalami stress (baik regangan maupun
tekakan) setelah mengalami akumulasi dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan sifat fisik
batuan buminya. Semakin tinggi kekuatan batuan dalam menahan stress semakin besar pula
energi yang dilepaskan. Dengan perkataan
lain, semakin besar periode ulang suatu gempabumi semakin besar pula magnitude gempabumi
yang akan terjadi. Dan semakin besar magnitude gempabumi makin besar pula percepatan tanah
yang terjadi di suatu tempat.
Untuk menghitung besarnya percepatan
maksimum pada tiap-tipa grid digunakan metode McGuire, dimana probabilitas kejadian gempa
dihitung berdasarkan distribusi ektrim Gumbel untuk periode ulang gempabumi 5, 10,20, 50,
dan 100 tahun.
Metode McGuire :
dimana :
b1 = 472.3
b2 = 0.278
b3 = 1.301
m
= magnitudo gelombang permukaan, dan
R
= Jarak hiposenter
Ada 3 (tiga) tipe distribusi ekstrim gumbel yaitu :
1. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe I :
= exp [- exp{-a(x v)}]
(1)
2. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe II :
= exp {-
}
(2)
3. Distribusi Ekstrim Gumbel tipe III :
= exp {-
}
(3)
dimana :
a = parameter fungsi intensitas
v = karakteristik harga maksimum
x = suatu variable
e = batas bawah harga maksimum
w = batas atas harga maksimum
k =
parameter kelengkungan
Hasil peta
1.
Peta PGA metoda McGuire
2.
Peta PGA metoda Kanai
3.
Peta PGA metoda Murphy-OBrein
4.
Peta PGA metoda Gutenberg-Richter
5.4. Peta sejarah Tsunami
Istilah tsunami berasal
dari kosa kata Jepang tsu yang berarti gelombang dan nami yang
berarti pelabuhan, sehingga secara bebas, tsunami diartikan sebagai gelombang
laut yang melanda pelabuhan. Bencana tsunami
terbukti menelan banyak korban manusia maupun harta benda, sebagai contoh untuk Tsunami di
Flores (1992) mengakibatkan meninggalnya
lebih dari 2000 manusia, kemudian untuk tsunami di Banyuwangi (1994) telah menelan korban
800 orang lebih, belum termasuk hitungan harta benda yang telah hancur.
Tsunami ditimbulkan oleh adanya
deformasi (perubahan bentuk) pada dasar lautan, terutama perubahan permukaan dasar lautan
dalam arah vertikal. Perubahan pada dasar lautan tersebut akan diikuti dengan perubahan
permukaan lautan, yang mengakibatkan timbulnya penjalaran gelombang air laut secara
serentak tersebar keseluruh penjuru mata-angin. Kecepatan rambat penjalaran tsunami di
sumbernya bisa mencapai ratusan hingga ribuan km/jam, dan berkurang pada saat menuju
pantai, dimana kedalaman laut semakin dangkal. Walaupun tinggi gelombang tsunami
disumbernya kurang dari satu meter, tetapi pada saat menghepas pantai, tinggi gelombang
tsunami bisa mencapai lebih dari 5 meter. Hal ini disebabkan berkurangnya kecepatan
merambat gelombang tsunami karena semakin dangkalnya kedalaman laut menuju pantai, tetapi
tinggi gelombangnya menjadi lebih besar, karena harus sesuai dengan hukum kekekalan
energi.
Penelitian menunjukkan bahwa tsunami
dapat timbul bila kondisi tersebut dibawah ini terpenuhi :
v
Gempabumi dengan pusat di tengah lautan.
v
Gempabumi dengan magnitude lebih besar dari
6.0 skala Ricter
v
Gempabumi dengan pusat gempa dangkal, kurang
dari 33 Km
v
Gempa bumi dengan pola mekanisme dominan
adalah sesar naik atau sesar turun
v
Lokasi sesar (rupture area) di lautan yang
dalam (kolom air dalam).
v
Morfologi (bentuk) pantai biasanya pantai
terbuka dan landai atau berbentuk teluk.
Metode pemetaan
Peta bahaya tsunami di wilayah
Indonesia berasal dari dua peta; peta rawan tsunami dan peta potensi tsunami. Sumber data
peta ini berasal dari catatan sejarah peristiwa alam tsunami di Indonesia dari tahun 0
sampai dengan tahun 2000. Sumber data peristiwa alam termasuk gempa bumi dan gunung
meletus beserta akibatnya pada tahun 0 sampai dengan 1900 diambil dari catalog The
Earthquake of The Indonesian Archipelago oleh Arthur Wichmann versi bahasa Inggris.
Catalog ini berisi catatan peristiwa alam yang dirangkum dari berbagai sumber termasuk
catatan harian pelaut, pedagang dsb. Peristiwa Tsunami diterjemahkan kedalam tingginya
tsunami pada suatu lokasi untuk dipetakan.
Peta Potensi Tsunami
adalah peta bahaya tsunami pada daerah tersebut berdasarkan peristiwa tsunami yang pernah
terjadi. Data dasar yang dipakai dalam
pembuatan peta ini adalah ketinggian run up (limpasan gelombang tsunami di
pantai) yang terukur di lapangan. Ketinggian diukur dengan titik dasar pada garis pantai.
Run up dikelompokkan menjadi 3
kategori yaitu : tidak bahaya,
dengan tinggi run up 0 2 m; bahaya,
dengan tinggi run up 2 - 5 m; dan sangat
bahaya, dengan tinggi run up lebih
dari 5m.
Peta rawan tsunami
Peta rawan tsunami menggambarkan
pantai-pantai di Indonesia yang rawan
terhadap bahaya tsunami. Kerawanan terhadap tsunami disusun berdasarkan peta tektonik
Indonesia, dimana zona-zona subduksi dan zona busur dalam (back arc thrust) merupakan
sumber gempabumi dangkal di laut. Dengan demikian pantai yang menghadap kedua kondisi
tektonik tersebut merupakan pantai yang rawan tsunami.
Hasil pemetaan
Peta potensi dan rawan tsunami.
5.5. Peta Resiko Gempa Bumi
Semua pemetaan di atas disimpulkan dalam Peta resiko gempa bumi yang dihasilkan dari intergrasi dua peta yaitu peta yang menampilkan dampak gempa bumi di lokasi tertentu. Penampilan peta ini bisa dari integrasi percepatan maksimum tanah dengan Tsunami dan distribusi energi gempa dengan tsunami. Untuk integrasi ini perlu didefinisikan tingkat resiko gempa bumi. Definisi yang kita pakai sangat subjektif, karena banyak parameter yang tidak tersedia. Definisi ini sangat mudah diubah-ubah dalam aplikasi SIG, sesuai dengan tingkat resiko dan parameter yang tersedia. Parameter yang dimaksud sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal seperti ketebalan lapisan sedimen dan perioda dominan lapisan tanah.
Penjumlahan tingkat resiko didefinisikan sebagai penjumlahan linier;
T = R1 + R2
Dimana T=total resiko, R1, adalah resiko parameter I dan R2 adalah resiko parameter II.
5.5.1. Peta Percepatan tanah maksimum dan tsunami
Peta percepatan tanah maksimum merupakan dampak gelombang gempa dilokasi pengamat, sehingga bisa menjadi ukuran resiko gempa bumi dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami. Peta percepatan tanah maksimum diklasifikasikan menjadi 10 (sepuluh) macam tingkat resiko berdasarkan besaran percepatan maksimum (satuan gal = cm/s2) dan Intensitas (satuan MMI).
NO. |
TINGKAT RESIKO |
NILAI PERCEPATAN (gal) |
INTENSITAS (MMI) |
KODE |
1. |
Resiko sangat kecil |
< 25 |
< VI |
0 |
2. |
Resiko kecil |
25 50 |
VI-VII |
1 |
3. |
Resiko sedang satu |
50 75 |
VII-VIII |
2 |
4. |
Resiko sedang dua |
75 100 |
VII-VIII |
3 |
5. |
Resiko sedang tiga |
100 125 |
VII- VIII |
4 |
6. |
Resiko Besar satu |
125 150 |
VIII IX |
5 |
7. |
Resiko Besar dua |
150 200 |
VIII IX |
6 |
8. |
Resiko Besar tiga |
200 300 |
VIII IX |
7 |
9. |
Resiko sangat besar satu |
300 600 |
IX X |
8 |
10. |
Resiko sangat besar dua |
> 600 |
> X |
9 |
Peta tsunami diklasifikasikan menjadi 10 macam tingkat resiko berdasarkan tinggi runup.
NO. |
TINGKAT RESIKO |
NILAI RUNUP (m) |
|
KODE |
1. |
Resiko sangat kecil |
< .1 |
|
0 |
2. |
Resiko kecil |
0.1 0.5 |
|
1 |
3. |
Resiko sedang satu |
0.5-1 |
|
2 |
4. |
Resiko sedang dua |
1-2 |
|
3 |
5. |
Resiko sedang tiga |
2-4 |
|
4 |
6. |
Resiko Besar satu |
4-7 |
|
5 |
7. |
Resiko Besar dua |
7-10 |
|
6 |
8. |
Resiko Besar tiga |
10-20 |
|
7 |
9. |
Resiko sangat besar satu |
20-30 |
|
8 |
10. |
Resiko sangat besar dua |
> 30 |
|
9 |
5.5.2. Peta akumulasi energi gempa dan tsunami
Akumulasi energi gempa adalah jumlah seluruh gempa yang pernah terjadi dalam periode 100 tahun. Akumulasi ini menjadi ukuran tingkat seismisitas pada pemetaan ini dan dijumlahkan dengan tingkat resiko tsunami.
Klasifikasi resiko akumulasi energi gempa didefinisikan sbb:
NO. |
TINGKAT RESIKO |
Magnitude (mB) |
Log Mo (pangkat 10) |
KODE |
1. |
Resiko sangat kecil |
< 4.5 |
19-20.9 |
0 |
2. |
Resiko kecil |
4.5 5 |
20.9-22.1 |
1 |
3. |
Resiko sedang satu |
5-5.5 |
22.1-23.3 |
2 |
4. |
Resiko sedang dua |
5.5-6 |
23.3-24.5 |
3 |
5. |
Resiko sedang tiga |
6-6.5 |
24.5-25.7 |
4 |
6. |
Resiko Besar satu |
6.5-7 |
25.7-26.9 |
5 |
7. |
Resiko Besar dua |
7-7.5 |
26.9-28.1 |
6 |
8. |
Resiko Besar tiga |
7.5-8 |
28.1-29.3 |
7 |
9. |
Resiko sangat besar satu |
8.0-8.5 |
29.3-30.5 |
8 |
10. |
Resiko sangat besar dua |
> 8.5 |
30.5-33 |
9 |
Hasil pemetaan
1.
Peta resiko gempa 1, penjumlahan percepatan
tanah maksimum dan tsunami.
Penjumlahan
ini dilakukan dengan memakai beberapa peta percepatan tanah maksimum yaitu;
1.a.
Percepatan tanah maksimum versi McGuire untuk perioda ulang 5,25,50 dan 100 tahun
1.b.
Percepatan tanah maksimum versi Murphy-OBrien
1.c.
Percepatan tanah maksimum versi Gutenberg Richter
2.
Peta resiko gempa 2, penjumlahan akumulasi
energi dan tsunami
6.
Team peneliti
Untuk memudahkan mekanisme kerja, kami bagi kelompok kerja berdasarkan pada unsur peta;
a) Percepatan tanah; menghitung percepatan tanah
b) Tsunami; mengumpulkan dan memetakan data tsunami
c) Data makro;mengumpulkan dan memetakan data intensitas
d) Hyposenter; memetakan berbagai macam seismisitas
e) Sistem Informasi Geografi (SIG); merangkum semua unsur peta, merancang aplikasi dan membuat manual.
Anggota team terdiri dari;
DAFTAR ACUAN :
1.
Benjamin F Howell,JR; Introduction to Geophysics, Mc Graw Book Company,
1956
2.
P.J. Prih Harjadi & Subardjo, Fungsi
Attenuasi Intensitas Gempa Flores 12 Desember 1992, Proceding PIT-HAGI ke 18 tahun 1993
3.
Ir. Gunawan, dkk, Diktat Perencanaan Struktur
Tahan Gempa, Jilid 1, Delta Tehnik Group.
4.
Peta Resiko Gempabumi di Indonesia, Proyek
Meteorologi dan Geofisika Pusat BMG dengan Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMIPA ITB-
Bandung 1995.
5. Hagiwara,Yukio,
Probability of earthquake occurrence as obtained from a Weibull distribution analysis of
crustal strain Tectonophysics,23 (1974),313-318.
6. Rikitake,Tsuneji,Earthquake
forecasting and warning,Center for Academic Publication,1981.
7. Larson,Harold,J,Introduction
to probability theory and statistical inference,second edition,John Wiley &
son,Inc,1974.
8. Sulaeman
Ismail,Metode peramalan gempa bumi dan penerapannya,BMG,Departemen Perhubungan,1983.
9. A
Physical-Based Earthquake Recurrence Model for Estimation of Long-Term Earthquake
Probabilities. Ellsworth, W.L., Matthews. M.V, Nadeau, RM., Nishenko, S.P., Raesenberg,
PA., Simpson, R.W., Workshop on Earthquake recurrence state of the art and direction for
the future, Istituto Nazionale de Geofisica, Rome, Italy, Feb.,1999.